29 Ramadhan 1442

Apakah Sejarah Kelam Terulang Sekali Lagi di Afghanistan?

Jumat , 23 Apr 2021, 05:30 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Ilustrasi: Tentara Afghanistan dalam operasi mengambil alih distrik Ghormach Provinsi Faryab dari kekuasaan Taliban.
Foto : Anadolu Agency
Ilustrasi: Tentara Afghanistan dalam operasi mengambil alih distrik Ghormach Provinsi Faryab dari kekuasaan Taliban.

IHRAM.CO.ID, ANKARA -- Sejarah sering berulang di Afghanistan. Ini bahkan terjadi sejak Perang Inggris-Afghanistan Pertama (1839-1842), yang mungkin merupakan bencana bagi kekaisaran terbesar di Barat.

Keputusan terbaru Amerika Serikat (AS) untuk menarik pasukan dari negara yang dilanda perang itu memiliki kesamaan dengan peristiwa sebelumnya, kembalinya Dost Mohammad sebagai raja pada tahun 1842, Kesepakatan Jenewa 1988, negosiasi dengan Taliban pada 1998, dan terakhir perjanjian Doha di 2020.

Langkah pengumuman penarikan diri oleh Presiden AS Joe Biden tanpa membangun struktur pemerintahan yang kredibel di Kabul sangat mirip dengan Kesepakatan Jenewa, yang membuka jalan bagi penarikan pasukan Soviet untuk mengakhiri pendudukan selama sembilan tahun. Tapi langkah itu segera membuat Afghanistan menjadi kacau karena tidak adanya pemerintahan sementara di sana.

Mengingat peristiwa tersebut, para diplomat Pakistan yang terlibat dalam negosiasi sebelum Kesepakatan Jenewa menyatakan bahwa Uni Soviet terburu-buru untuk pergi tanpa membentuk pemerintahan yang dapat menyatukan negara.

"AS juga mendukung Soviet karena tertarik untuk menarik pasukan daripada membangun pemerintahan yang stabil di Kabul," ungkap jurnalis dan penulis veteran Pakistan, Shaikh Aziz, yang meliput penandatanganan perjanjian tersebut seperti dikutip Anadolu Agency.

Khawatir bahwa Presiden Pakistan Jenderal Muhammad Ziaulhaq dapat menjadikan Afghanistan sebagai basis bagi para Islamis, yang kemudian dapat memperluas ke Asia Tengah, AS menentang langkah untuk menggulingkan pemerintah komunis Mohammad Najeebullah.

Hal ini terjadi sebelum mengizinkan Soviet mundur untuk memaksa Islamabad menandatangani pakta tanpa syarat. Bahkan, AS bahkan memberlakukan larangan 120 hari pengiriman bantuan ke Pakistan.

Sementara Pakistan masih menunjukkan keraguan untuk melanjutkan perundingan, kota Islamabad dan Rawalpindi mengalami tragedi mengerikan pada 10 April 1988. Tempat pembuangan amunisi di jantung kota Rawalpindi yang ditujukan untuk Mujahidin Afghanistan meledak. Rudal dan bom menghujani kota kembar, menewaskan 100 orang dan menyebabkan lebih banyak lagi luka-luka.

Empat hari kemudian perwakilan Pakistan, Afghanistan, AS, dan Uni Soviet menandatangani pakta tersebut di Jenewa.