Jumat 23 Apr 2021 21:06 WIB

China Minta Jepang tak Bersikap Bodoh Buang Limbah Nuklir

Jepang berencana membuang air limbah nuklir Fukushima ke laut

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini
Pada file foto 27 Februari 2021 ini, Samudera Pasifik melihat-lihat unit reaktor nuklir No. 3, kiri, dan 4 di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di kota Okuma, prefektur Fukushima, timur laut Jepang.
Foto: AP/Hiro Komae
Pada file foto 27 Februari 2021 ini, Samudera Pasifik melihat-lihat unit reaktor nuklir No. 3, kiri, dan 4 di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di kota Okuma, prefektur Fukushima, timur laut Jepang.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Pemerintah China kembali menyoroti rencana Jepang membuang air limbah dari reaktor nuklir Fukushima ke laut. Beijing mengatakan Jepang harus bisa menghadapi keberatan dari dalam dan luar negeri serta berhenti bersikap bodoh tentang masalah tersebut.

"Pembuangan air nuklir yang tercemar tidak pernah menjadi urusan domestik Jepang. Jika air nuklir yang tercemar bukan merupakan bahaya publik, mengapa Jepang tidak menyimpannya untuk dirinya sendiri?" kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang Zhao Lijian pada Jumat (23/4), dikutip laman China Global Television Network (CGTN).

Baca Juga

Dia mendesak Jepang menghormati ekosistem laut global serta kesehatan dan keselamatan umat manusia. Selain China, Korea Selatan (Korsel) juga memprotes rencana Jepang membuang air limbah dari reaktor nuklir Fukushima ke Samudra Pasifik. Ia mempertimbangkan membawa masalah itu ke Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut.

Sekitar 1,25 juta ton air telah terkumpul di tangki pembangkit nuklir Fukushima yang lumpuh pasca-tsunami pada 2011. Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan pembuangan air adalah tugas yang tak terhindarkan dalam proses penonaktifan pembangkit nuklir selama puluhan tahun.

Pemerintah Jepang pun meyakinkan pelepasan air dari tangki pembangkit nuklir aman. Sebab mereka telah melakukan proses untuk menghilangkan hampir semua unsur radioaktif dan akan diencerkan. Langkah Jepang didukung Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Menurut IAEA, tindakan tersebut serupa dengan pembuangan air limbah pembangkit nuklir di tempat lain di dunia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement