Jumat 23 Apr 2021 23:21 WIB

Kesthuri: Publik Perlu Tahu Mengapa Indonesia Masih Diblokir

Kesthuri menilai publik Indonesia perlu tahu alasan pemblokiran Indonesia

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah
Kesthuri menilai publik Indonesia perlu tahu alasan pemblokiran Indonesia. Ilustrasi umroh
Foto: AP / Amr Nabil
Kesthuri menilai publik Indonesia perlu tahu alasan pemblokiran Indonesia. Ilustrasi umroh

IHRAM.CO.ID, JAKARTA— Sekretaris Jenderal Kesatuan Tour Travel Haji Umroh Indonesia (Kesthuri), Artha Hanif, mangatakan Pemerintah Indonesia harus minta alasan yang jelas kepada Arab Saudi kenapa masih menutup akses masuk negaranya. Sebagai negara dengan jamaah umroh dan haji terbanyak, tak seharusnya Indonesia dilarang masuk.  

"Kesthuri mendesak pemerintah baik Kementerian Luar Negeri maupun Kementerian Agama mendapatkan alasan yang tepat dan rasional di balik pelarangan Indonesia masuk ke Arab Saudi," kata Artha saat diminta tanggapannya terkait masih dilarangnya Indonesia masuk Arab Saudi. 

Baca Juga

Artha mengaku bingung mengapa Indonesia termasuk 20 negara yang dilarang masuk ke Arab Saudi. Padahal sudah sejak lama jamaah umroh maupun haji dari Indonesia yang terbanyak dan terdepan dalam hal kuantitas jumlah maupun dalam hal kualitas fasilitas layanan di Arab Saudi. "Sehingga secara bisnis dan ikon, jamaah umrah dan haji dari Indonesia sangat patut diperhitungkan," katanya. 

Artha mengatakan, saat pemerintah Arab Saudi membuka umroh secara internasional di awal November 2020 hinga Januari 2021, terbukti Indonesia adalah satu-satunya negara yang paling merespon secara aktif dibukanya visa umroh saat itu. Dalam pandemi November 2020 sampai dengan Januari 2021, Indonesia mengirim hampir 2000 orang. "Dibawah Indonesia adalah Pakistan sekitar 500 orang. Negara-negara lainnya hanya mengirim beberapa gelintir saja," katanya. 

Ketika awal Februari 2021 umroh ditutup kembali dan akses penerbangan juga di stop khususnya untuk 20 negara termasuk Indonesia. Keshturi memperkiran penutupan untuk keperluan Saudi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan umroh. "Kami masih memperkirakan bahwa Arab Saudi akan melakukan evaluasi total atas dibukanya umroh selama tiga bulan tersebut," katanya. 

Apalagi kata Artha pada Juli 2021 nanti Arab Saudi sudah harus mempersiapkan haji sehingga prasangka kami Saudi perlu mempersiapkan segala sesuatunya secara komprehensif. Sehingga haji dan umroh ke depan akan lebih baik lagi dan lebih pasti protokol kesehatan (prokes) yang akan diterapkan Saudi. 

Sehingga kata dia, bahwa sekarang berita 20 negara tersebut dimunculkan lagi dan mengkaitkan dengan rencana pembukaaan akses penerbangan pada 17 Mei, merupaan sesuatu yang pantas dan perlu untui ditelaah. "Why mengapa ini bisa terjadi?" katanya. 

Menurutnya, banyak isu berseliweran viral di medsos yang mengatakan bahwa pelarangan kepada Indonesia disebabkan di antaranya karena adanya kebijakan pemerintah RI yang belum dapat diterima Kerajaan Arab Saudi. Apakah hal itu benar adanya, Arta mengaku tidak ada yang bisa memastikan. 

Karena bagaimanapun kata dia, jumlah Muslim di Indonesia dan buying power jamaah Indonesia. Jadi hampir dipastikan bahwa pelarangan jamah Indonesia masuk ke Arab Saudi hanya bersifat temporal. "Artinya pelarangan itu tidak akan lama. Arab Saudi akan rugi sendiri bila sengaja meninggalkan Indonesia," katanya.   

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement