3 Syawwal 1442

Lima Nomisasi Oscar 2021 dari Timur Tengah

Ahad , 25 Apr 2021, 14:44 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Academy Awards
Foto : AP Photo
Academy Awards

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Acara penghargaan Academy Awards ke-93 atau yang lebih dikenal sebagai Oscar diadakan dua bulan lebih lambat dari yang direncanakan karena pandemi virus Covid-19. Acara ini akan digelar pada Ahad (25/4). Dari semua banyak nominasi, ada lima yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara yang perlu disoroti.

Berikut daftar lima nominasi tersebut seperti dilansir Middle East Eye, Ahad (25/4):

1. Kaouther Ben Hania (the Man Who Sold His Skin)

Sutradara Kaouther Ben Hania membuat sejarah tahun ini ketika filmnya menjadi film Tunisia pertama yang dinominasikan untuk film internasional terbaik. Film ini menceritakan tentang seorang pengungsi Suriah yang diperankan oleh Yahya Mahayni setuju untuk memiliki tato visa Schengen di punggungnya. Kemudian, karya itu dipamerkan di galeri-galeri global sebagai upaya untuk bersatu kembali dengan pacarnya di Eropa.

Filmnya tahun 2017, Beauty and the Dogs juga terpilih sebagai entri Tunisia untuk film berbahasa asing terbaik di Academy Awards ke-91 tapi tidak dinominasikan. Ben Hania yang lahir di Sidi Bouzid, Tunisia tengah percaya bahwa perubahan demokrasi di negara tersebut telah membawa peluang baru untuk industri film.

“Kami bereksperimen dengan kebebasan berbicara sehingga memberi kami kemungkinan bahwa para sutradara dapat membuat film tanpa sensor,” kata Ben. Ben menambahkan sejak revolusi dan pergantian rezim, para pekerja industri kreatif membutuhkan revolusi budaya untuk mengekspresikan diri.

2. Farah Nabulsi (the Present)

Faraah Nabulsi yang debut sebagai sutradara berdarah Inggris-Palestina muncul sebagai pesaing kuat dalam film pendek terbaik berjudul the Present. Drama berdurasi 25 menit itu menyoroti kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang Palestina dalam menavigasi pos pemeriksaan Israel di Tepi Barat yang diduduki secara ilegal.

Tokoh protagonis Yusef diperankan oleh Saleh Bakri yang berangkat dengan putri kecilnya untuk membeli hadiah ulang tahun istrinya. The Present memenangkan penghargaan Bafta untuk film pendek terbaik awal bulan ini dan dalam pidato penerimaannya Nabulsi mendedikasikan penghargaan tersebut untuk rakyat Palestina,.

Film ini terinspirasi oleh perjalanan tahun 2013 ke Palestina. Di sana, Nabulsi mengalami sendiri saat melalui pos pemeriksaan dan berbicara dengan penduduk setempat yang terkena dampaknya setiap hari.

3. Tomer Shushan (White Eye)

Selain the Present, film pendek lain yang perlu disoroti adalah White Eye yang disutradarai oleh Sutradara Israel, Tomer Shushan. Film ini menyoroti hak istimewa kulit putih dan perlakuan terhadap migran Afrika di Israel.

Film menceritakan tentang Omer, seorang pemuda di Tel Aviv yang menemukan bahwa sepedanya yang dicuri sekarang dimiliki oleh Yunes, seorang pria Eritrea yang bekerja di pabrik pengepakan daging. Kegigihan Omer dalam mengambil sepeda berpotensi menimbulkan konsekuensi serius bagi Yunes, seorang migran tidak berdokumen.

Shushan merujuk pada sebuah insiden tahun 2012, ketika mantan Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Miri Regev menyebut pencari suaka Sudan sebagai “kanker di tubuh kita.” Israel sering dikritik karena perlakuannya terhadap para migran, termasuk penahanan anak-anak dan penutupan pusat vaksin di Tel Aviv baru-baru ini yang digunakan oleh pencari suaka tidak berdokumen.