29 Ramadhan 1442

Oposisi India Serukan Lockdown

Selasa , 04 May 2021, 17:37 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Suasana sepi pusat vaksinasi saat terjadi kelangkaan vaksin Covid-19 di Rumah Sakit Shatabdi, Mumbai, India, Jumat (30/4). Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC) mengumumkan untuk menutup pusat vaksinasi selama tiga hari hingga Ahad (2/5) karena kekurangan pasokan vaksin di Mumbai. India mencatat lonjakan besar-besaran kasus baru Covid-19 dan tingkat kematian tertinggi di dunia dalam kurun waktu satu hari sejak awal pandemi. EPA-EFE/DIVYAKANT SOLANKI
Foto : EPA-EFE/DIVYAKANT SOLANKI
Suasana sepi pusat vaksinasi saat terjadi kelangkaan vaksin Covid-19 di Rumah Sakit Shatabdi, Mumbai, India, Jumat (30/4). Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC) mengumumkan untuk menutup pusat vaksinasi selama tiga hari hingga Ahad (2/5) karena kekurangan pasokan vaksin di Mumbai. India mencatat lonjakan besar-besaran kasus baru Covid-19 dan tingkat kematian tertinggi di dunia dalam kurun waktu satu hari sejak awal pandemi. EPA-EFE/DIVYAKANT SOLANKI

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Pemimpin oposisi India Rahul Gandhi menyerukan penguncian nasional saat penghitungan infeksi virus corona di negara itu melonjak melebihi 20 juta. India menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat yang mencatat tonggak sejarah pandemi yang suram.

"Satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran corona saat ini adalah penguncian penuh. Kelambanan pemerintah India membunuh banyak orang yang tidak bersalah," kata anggota parlemen partai Kongres Gandhi di Twitter.

Gelombang infeksi kedua yang mematikan di India merupakan lonjakan infeksi virus corona terbesar di dunia. Negara itu membutuhkan waktu lebih dari empat bulan untuk menambahkan 10 juta kasus, dibandingkan lebih dari 10 bulan untuk 10 juta kasus pertama.

Saat ini, India memiliki 3,45 juta kasus aktif COVID-19.Pada Selasa (4/5), India melaporkan 357.229 kasus baru selama 24 jam terakhir, sementara kematian naik 3.449 dengan korban 222.408, berdasarkan data kementerian kesehatan setempat. Pakar medis mengatakan angka kasus sebenarnya di India bisa lima hingga 10 kali lebih tinggi daripada yang dilaporkan.

Baca Juga