Perjuangan Qari Wanita Eropa Lawan Stereotipe

Jumat , 14 May 2021, 18:27 WIB Reporter :Zainur mahsir ramadhan/ Redaktur : Esthi Maharani
Qari
Qari

IHRAM.CO.ID, GLASGOW — Qari’ah wanita hingga kini memang masih tidak terlalu banyak, utamanya di Eropa di mana komunitas Muslim tak sebanyak di Indonesia atau negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Namun demikian, hal itu bukan halangan bagi aktivis dari Glasgow, Skotlandia, Madinah Javed (25 tahun).

 

Terkait

Bagi lulusan hukum itu, minat menjadi qari memang sudah ada sejak muda, saat ibunya mengikuti kelas tajwid di Qatar. Hingga akhirnya, singkat cerita Javed menjadi qari wanita di Glasgow dan menarik perhatian Katedral St Mary di Glasgow pada medio 2017 untuk mengundangnya dan melafalkan ayat suci Alquran. Dia, membagikan kisah Maria dan Nabi Isa untuk kebaktian Kristen.

Mendengar pelafalan itu, Javed mengaku jika banyak penonton yang tersentuh dengan lantunan yang ada. Namun sayang, ketika dia membagikan video tersebut ke internet, reaksi keras dari sayap kanan bermunculan. Berbagai pesan kebencian datang, hingga akhirnya, dia sempat berencana mengganti nama dan meninggalkan domisili.

Meski mendapat banyak cobaan, komunitas Muslim setempat juga tak bisa berbuat banyak dan membantu Javed. Hal itu mengingat wanita yang biasanya memang dijauhi komunitas Eropa dan dunia barat, ketika mereka membaca Alquran di tempat umum.

Tak berkecil hati, Javed mendapat kekuatan dari para pembaca dan pendengarnya di internet yang tersentuh dan merasa tergerak akan perjuangan Javed. “Saya memfokuskan semua energi dan semangat saya untuk menciptakan sesuatu yang indah. Saya menyadari tidak ada pelafal wanita lain di sini dan bahwa saya telah memecahkan langit-langit kaca,” kata Javed dikutip dari Aljazirah Selasa (11/5).

Di banyak negara mayoritas Muslim, seperti Aljazair, Nigeria, Malaysia, Indonesia dan Bosnia Herzegovina, adalah hal biasa bagi wanita untuk membaca Alquran di ruang publik untuk didengar oleh pria dan wanita. Berbeda dengan di wilayah Eropa yang menganggap suara wanita adalah ‘aurat’ yang seharusnya ditutupi dan tidak didengarkan pada lelaki.

Meski demikian, Javed memberanikan diri meluncurkan kampanye dengan hashtag #FemaleReciters di tahun itu. Tujuannya, untuk mendorong gadis dan wanita Muslim agar membagikan bacaan mereka secara daring, demi meningkatkan kesadaran dan membantu menghidupkan kembali tradisi suci pembacaan Alquran .

“Visi saya adalah bahwa ini akan menjadi tempat bagi semua wanita untuk berbagi dan menjadi bagian untuk menghidupkan kembali tradisi sakral kita bersama sebagai saudara, " ungkap dia.

Hal serupa juga diungkapkan oleh wanita lain yang juga mengunggah pengajian mereka secara daring, Asma Elbadawi dari Inggris. Dia mengaku, awal belajar melafalkan Alquran adalah ketika diajarkan membaca oleh sang ibu saat kecil. Mulai saat itu, dirinya kerap mengikuti kompetisi di banyak komunitas Muslim.

"Itu adalah sesuatu yang dipandang sebagai hak istimewa untuk belajar dan membaca Alquran," kata Elbadawi.

Menurut dia, tumbuh dengan mendengarkan Alquran dari suara wanita menjadi sesuatu yang tidak sering didengar. Meski pemahaman wilayahnya seakan sangat dibatasi, namun hal itu disebutnya bukanlah halangan dan permasalahan.

“Ketika wanita berbagi bacaan Alquran, itu menginspirasi wanita lain untuk meluangkan waktu agar belajar dan membaca hingga menikmati Alquran. Karena pada akhirnya, ini tentang menikmati percakapan yang Anda lakukan dengan pembuat konten. " ungkap dia.

Kembali ke Javed. Dia mulai menyusun situs web Amaliah sejak bulan lalu, dan memfokuskan isinya untuk daftar putar pengajian oleh wanita di seluruh dunia. Javed berkata, di tempat-tempat yang tidak lazim didengarkan para qari wanita, memang perlu waktu untuk membuat perubahan. Itulah mengapa dia mencoba mengunjungi komunitas sebanyak mungkin, berbicara dengan orang-orang, dan meningkatkan kesadaran.

Hingga kini, dia diketahui telah memberikan pembacaan Alquran di seluruh dunia termasuk di British Museum dan di Parlemen Skotlandia. Bahkan, Senin kemarin dia mulai membaca Alquran yang disiarkan oleh organisasi komunitas Muslim Space yang berbasis di Texas.

‘’Kata-kata Tuhan itu sendiri sempurna dan kami hanya mencoba yang terbaik untuk melafalkannya.’’ ungkap dia