Mudik Tanah Melayu Sejak 1390 M, Mudik Palestina Masa Kini

Sabtu , 15 May 2021, 15:27 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Para pemudik lebaran berbondong-bondong menyesaki jalanan.
Para pemudik lebaran berbondong-bondong menyesaki jalanan.

IHRAM.CO.ID, Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis.

 

Terkait

"Tahun lalu kita tidak boleh mudik. Tahun ini juga tidak boleh mudik. Sebenarnya, Bapak ada masalah apa dengan orang tua saya?" Bermacam meme dengan kalimat itu berseliweran di sosial media. Mengundang senyum bagi yang membacanya.

Larangan mudik untuk kali kedua ini disikapi beragam. Ada yang tetap nekad melakukannya dengan berbagai cara, seperti para pemudik yang menggunakan sepeda motor. Ada juga yang menurut meski bersungut-sungut, karena tak bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. 

Apapun, pembatasan pergerakan manusia ini bertujuan untuk mencegah supaya tak terjadi ledakan kasus Covid-19 seperti yang disaksikan di India.

Karena bila sampai terjadi lonjakan kasus dalam waktu singkat secara bersamaan, RS dan tenaga medis tak akan sanggup meng-handle. Ini akan berakibat fatal bagi semua. 

Ala kulli hal, kita masih harus bersabar. Mari kita nikmati kembali Lebaran tanpa mudik kali ini.

 

 

Mudik adalah tradisi yang mengakar bagi masyarakat Indonesia. Secara etimologi kata "mudik" ditemukan dalam naskah kuno berbahasa Melayu.

Istilah mudik sejak tahun 1390 M

Dari penelusuran di Malay Concordance Project, kata "mudik" sudah dipakai pada naskah "Hikayat Raja Pasai" yang bertarikh sekitar 1390 M.

Tak hanya di Indonesia, tradisi mudik juga dikenal di berbagai belahan dunia. Salah satunya di Turki yang dikenal dengan istilah Bayram. Yakni tradisi berkumpul bersama keluarga di Hari Raya. Saat berkumpul itu akan dihidangkan aneka makanan manis, seperti lokum atau baklava untuk menyambut kehadiran tamu. 

Berbeda dengan di Indonesia di mana tuan rumah yang berkewajiban menjamu, di Turki justru tamulah yang membawa makanan untuk disantap bersama.

Di Timur Tengah, tradisi serupa mudik juga dikenal, meski tanpa istilah khusus. Pada momen Lebaran, masyarakat urban di perkotaan akan pulang ke kampung halaman untuk bertemu orangtua dan keluarganya. Mereka akan saling meminta maaf dan menikmati jamuan makan bersama. 

Namun, prosesi mudik ini hanya terjadi sporadis, tidak dalam skala masif seperti di Indonesia. Karena secara umum, perayaan Idul Adha dirayakan lebih meriah di negara-negara Timur Tengah ketimbang Idul Fitri. 

Tahun ini, Lebaran yang disambut meriah di berbagai belahan dunia, tidak berlaku di Gaza, Palestine. Sejak hari terakhir Ramadhan, serangan Israel pada warga sipil kian membabi-buta. Suara takbir bersahut-sahutan dengan dentuman bom dan jerit tangis para syuhada. 

Sampai tulisan ini dibuat, setidaknya sudah 119 syahid, termasuk 29 anak-anak. Lebih dari 700 orang terluka, termasuk para jurnalis yang secara hukum internasional harusnya mendapatkan perlindungan dalam melakukan tugasnya.

Serangan atas Gaza di bulan Ramadhan tak hanya terjadi kali ini saja. Hampir setiap tahun selalu ada. Eskalasinya saja yang berbeda-beda. Tahun ini jumlah korban dan intensitas serangan lebih besar dari serangan yang terjadi tahun 2014 lalu.

Sekalipun Ramadhan dan Hari Raya selalu dirusak sang durjana, namun mereka menunjukkan ketegaran dan keikhlasannya sebagai manusia-manusia terbaik akhir zaman, yang dipilih Allah untuk menjaga tanah waqaf Palestine. Pada keluarga yang syahid, mereka menggunakan ungkapan, "Dia pulang lebih dulu." 

Demikianlah sesungguhnya makna kata pulang itu. Pulang ke kampung halaman atau mudik yang kita lakukan hari-hari ini adalah kepulangan semu. Karena sejatinya pulang adalah kembali ke kampung akhirat.

Saudara-saudara kita di Palestine telah memberi contoh, bagaimana menyiapkan kepulangan yang bisa terjadi kapan saja. Bagaimana dengan kita?

Jakarta, 14/5/2021