Kamis 20 May 2021 16:35 WIB

Dinkes DKI: Jumlah Tes PCR Menurun, Antigen Meningkat

Banyak masyarakat yang lebih memilih melakukan tes melalui Antigen.

Rep: Flori Sidebang/ Red: Andi Nur Aminah
Tenaga kesehatan melakukan tes usap antigen kepada warga di GOR Kelurahan Kampung Makasar, Jakarta Timur (ilustrasi)
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Tenaga kesehatan melakukan tes usap antigen kepada warga di GOR Kelurahan Kampung Makasar, Jakarta Timur (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengungkapkan, jumlah tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Ibu Kota menurun dalam sepekan terakhir. Hal ini disebabkan banyaknya masyarakat yang lebih memilih melakukan tes melalui Antigen. 

"Saat ini banyak masyarakat mengakses antigen, jumlah pemeriksaannya terus meningkat," kata Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ngabila Salama saat dihubungi, Kamis (20/5).

Baca Juga

Ngabila menyebut, selain tes PCR, jumlah tracing dalam sepekan terakhir juga mengalami penurunan. Sebab, ungkap dia, kasus Covid-19 di Jakarta pun turun. "Tracing juga turun karena kasusnya turun," ujarnya. 

Lebih lanjut Ngabila menjelaskan, meski rapid tes antigen meningkat, tetapi tes ini tidak dapat mendiagnosis seseorang terinfeksi Covid-19. Ia meminta masyarakat untuk tetap menjalani tes swab PCR jika mengidap gejala atau melakukan kontak erat dengan kasus positif virus corona. "Antigen tidak dapat mendiagnosis, hanya untuk skrining awal. Kami imbau semua yang bergejala atau kontak erat kasus positif segera PCR ke puskesmas dan gratis," jelas dia.

Selain itu, dia juga mengimbau warga untuk meningkatkan kesadaran terhadap ancaman penularan Covid-19. Ngabila menuturkan, masyarakat tidak perlu takut untuk melakukan swab tes PCR. "Jangan takut atau enggan dicek PCR, karena semakin cepat terdiagnosis bisa mencegah penularan ke orang lain dan ditatalaksana segera dengan baik," ucap Ngabila. 

Adapun jumlah masyarakat yang dites PCR mulai mengalami penurunan sejak 15 Mei 2021 dengan total 4.032 orang. Kemudian, 3.580 orang pada 16 Mei, 4.361 orang pada 17 Mei, 4.131 orang pada 18 Mei, dan 4.494 orang pada 19 Mei. Padahal rata-rata tes PCR harian di Jakarta bisa mencapai 9-11 ribu tes per hari. 

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengungkapkan, saat ini kondisi kasus Covid-19 di Ibu Kota termasuk yang paling rendah. Hal ini, jelas dia, terlihat dari kapasitas keterisian tempat tidur isolasi dan ICU. "Saat ini di Jakarta kita secara umum situasinya termasuk yang paling rendah," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Jumat (14/5).

Anies menjelaskan, hingga kini tingkat keterisian tempat tidur isolasi dan ICU di Jakarta tidak lebih dari 30 persen. Menurutnya, kondisi itu adalah yang terendah dalam satu tahun ini. "Tingkat isolasi kita antara 24 hingga 28 persen, occupancy ratio-nya. Dan itu artinya termasuk yang rendah selama satu tahun ini," ungkap Anies. 

Ia pun berharap agar lonjakan kasus Covid-19 tidak kembali terjadi usai libur Lebaran 1442 Hijriah. Oleh karena itu, jelas Anies, jajarannya akan terus melakukan antisipasi pencegahan penularan virus corona. "Kita tidak berharap itu mengalami lonjakan di pekan-pekan depan. Tapi kita antisipasi," ujarnya. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement