Kamis 27 May 2021 12:01 WIB

Kala Cendekiawan Islam, Nasrani, Yahudi, Bergamis dan Serban

Ilmu diamalkan bukan dipatenkan

Toledo (Tulaytulah) di Spanyol.
Foto: google.co.id
Toledo (Tulaytulah) di Spanyol.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Penulis dan Traveller.

Jalanan itu berlapis bebatuan rapi. Mengingatkan saya pemandangan yang ada di film Les Misérables. Suasananya pun mirip seperti dalam film yang dibintangi Hugh Jackman dan Anne Hathaway itu.  

Jalanan yang gelap dan dingin, dengan bangunan tua di kiri-kanan. Suasana bertambah “seram” karena rata-rata bentuk bangunan di kota tua ini berarsitektur Gothic, seperti di film-film horor.

Sore itu saya berada di kota Toledo atau Tulaytulah dalam penamaan Arab, yang mejadi bagian dari negara Spanyol modern saat ini. 

Toledo memiliki sejarah yang sangat panjang. Wilayah ini pernah dikuasai Kerajaan Byzantium (pada 192 SM), Bangsa Vandal (409‒429), serta Bangsa Visigoth (sejak 567).

Hingga pada 711, pasukan Thariq ibn Ziyad berhasil membebaskannya. Menyebarkan hangatnya cahaya Hidayah. Sejak itu  Toledo tumbuh menjadi kota penting sebelum  ibukota dipindahkan ke Sevilla.

Toledo Archives - Muslim HeritageMuslim Heritage

Keterangan foto: Manuskirp kedokteran Islam dalam masa Khalifah Abbasyiyah di Spanuol.

Tidak hanya itu, Toledo juga meninggalkan jejak peradaban, salah satunya adalah Universitas Toledo yang menjadi pusat penerjemahan, kajian filsafat, astronomi, kedokteran, sastra, kesenian, dan banyak lagi. 

Di kota ini beratus-ratus kitab diterjemahkan dari dan ke bahasa Arab, serta ke ke bahasa Latin. Geliat intelektual sangat terasa. 

Para cendekiawan Muslim, Nasrani dan Yahudi lalu-lalang membawa kitab, memakai gamis dan serban. Pada waktu itu segala hal yang berbau Islam menjadi trend. Semua orang ingin mengikuti apa yang Muslimin lakukan dan kenakan.

Tak ada kekhawatiran dari para cendekiawan Muslim untuk menyebarluaskan ilmunya. Karena dalam Islam, ilmu yang didapat itu untuk diajarkan dan diamalkan. Ilmu yang bermanfaat menjadi amal jariyah yang pahalanya tak akan habis mesti telah berkalang tanah.

Bandingkan dengan yang terjadi hari ini, para ilmuwan Barat berlomba-lomba menemukan ilmu, lalu menutup rapat aksesnya dengan cara mematenkan. Padahal tak sedikit sumber awal  ilmu ituberasal  dari peradaban Islam yang dicuri dari pusat-pusat penerjemahan di Toledo. 

Sejarah mencatat, kala Toledo jatuh ke tangan pasukan Alfonso IV dari Castille, tak terhitung kitab-kitab yang disalin dan diterjemahkan dalam bahasa Latin tanpa menyebutkan siapa penulisnya. Beberapa hanya diberi simbol NN alias no name.

Menyusuri Jejak Islam di Eropa | PORTAL ISLAM

Salah satu yang menjadi korban adalah buah pikir Ala al-Din Abu al-Hassan Ali bin Abi-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi atau yang dikenal sebagai  Ibn al-Nafis.

Kitab pentingnya tentang sirkulasi pembuluh darah kapiler diterjemahkan selama berabad-abad tanpa disebutkan sumbernya. Sampai ditemukan di Berlin pada 1924 dan baru ketahuan itu adalah buah pikir Ibn al-Nafis.

Kitab-kitab masyhurnya  diterjemahkan dalam bahasa Inggris  “The Commentary on Anatomy di Canon Avicenna”  yang membahas teorinya tentang  sirkulasi paru dan jantung. Lalu “The Comprehensive Book of Medicine”  yang merupakan  ensiklopedia medis terbesar saat itu.

Hari ini, 25 Mei 1085 dunia Islam mengenang jatuhnya kota Toledo. 

Tergelitik tanya, seandainya kitab-kitab ilmuwan Muslim pada waktu itu tidak diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin, akankah pengetahuan dan kemajuan hanya berada dalam genggaman Islam? 

Ah tentu tidak. Karena dalam Islam, ilmu itu untuk diamalkan, bukan dipantenkan.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement