Erdogan Resmikan Masjid Taksim Square Istanbul

Ahad , 30 May 2021, 05:48 WIB Reporter :Puti Almas/ Redaktur : Esthi Maharani
 Pemandangan Taksim Square yang ikonik
Pemandangan Taksim Square yang ikonik

IHRAM.CO.ID, ANKARA — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meresmikan sebuah masjid yang dibangun di Taksim Square Istanbul. Tempat ini disebut sebagai simbol dari berakhirnya dekade perjuangan simbolis antara sekularis dan konservatif.

 

Terkait

Sejak 1950-an, Pemerintah Turki yang konservatif ingin membangun masjid di area tersebut. Sebelumnya, Taksim Square menjadi tempat untuk berbagai bisnis hiburan seperti bioskop, teater, dan bar.

Kaum konservatif yang tinggal di wilayah tersebut telah lama berpendapat bahwa masjid baru adalah kebutuhan umat Islam si sana. Hal itu karena masjid kecil abad ke-16 di Jalan Istiklal dan masjid lain yang lebih kecil, tidak menawarkan cukup ruang untuk menyelenggarakan shalat, terutama selama khutbah Jumat.  Namun, tak sedikit yang menentang, dengan mengatakan bahwa itu akan mengubah struktur budaya alun-alun.

“Kami ingin membangun masjid ketika saya menjadi wali kota pada 1994, tetapi kami tidak dapat melakukannya,” ujar Erdogan dalam pidato saat peresmian pembukaan masjid di Taksim Square, dilansir Middle East Eye, Sabtu (29/5).

Erdogan menyebut hal itu tidak bisa dilakukan, mengacu pada insiden pada 28 Februari 1994, di mana intervensi militer menggulingkan Islam. Pembukaan masjid pada Jumat (28/5) kemarin bertepatan dengan peringatan aksi protes di Taman Gezi, di mana saat itu orang-orang berdemonstrasi menentang rencana Erdogan menghancurkan area hijau di dekat Taksim Square untuk membangun kembali barak militer era Ottoman.

Dalam aksi protes tersebut, sebanyak delapan orang tewas dan hampir 9.000 lainnya terluka. Erdogan mengatakan sebelumnya tidak dapat membangun masjid selama menjadi perdana menteri karena pihak-pihak yang menghalangi, sekaligus menyoroti banyak gereja di area sekitar Taksim Square, namun tidak demikian dengan masjid.

Lingkungan sekitar Taksim Square, yang dikenal sebagai Beyoglu, telah menjadi pusat budaya dan perdagangan penting bagi komunitas non-Muslim sejak zaman Ottoman. Banyak negara asing, seperti Prancis, Jerman, dan Inggris mendirikan misi luar negeri mereka di sana pada abad ke-19, sementara minoritas termasuk komunitas Yunani, Armenia, dan Yahudi memiliki properti, termasuk kuil dan bisnis.

Namun, setelah runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah, Beyoglu menjadi pusat baru Istanbul. Di bawah pemerintahan Turki yang sekuler, secara bertahap ini mulai sering dikunjungi oleh umat Islam.

Setelahnya ada insiden ribuan orang menjarah toko dan rumah minoritas non-Muslim pada 1955, dalam kerusuhan yang dikenal sebagai peristiwa 6 - 7 September yang mengikuti berita palsu bahwa rumah pendiri Turki, Mustafa Kemal Ataturk di Salonica telah dibom. Saat ini, jumlah penduduk non-Muslim di daerah tersebut sangat rendah.

Banyak para pemimpin konservatif sejak itu berulang kali menunjukkan bahwa Gereja Ortodoks Yunani Hagia Triada menyambut warga Istanbul di sebuah alun-alun yang tidak memiliki jejak warisan Islam selain masjid kecil di area gang. Erdogan juga mengkritik partai oposisi utama CHP karena menghalangi upaya masa lalu untuk membangun masjid di daerah tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Erdogan mengambil beberapa langkah yang disebut sebagai ambisinya di Istanbul. Pada 2019, ia membuka Masjid Agung Camlica yang dibangun di atas salah satu perbukitan hijau Istanbul yang tersisa dan dapat dilihat oleh seluruh bagian kota di Eropa.

Kemudian pada 2020, Erdogan mengubah Hagia Sophia yang dikenal sebagai museum oleh banyak orang, khususnya wisatawan mancanegara menjadi masjid. Ia menyebut Masjid Taksim Square sebagai warisan spiritual ketiga untuk Istanbul.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini