Kamis 03 Jun 2021 15:09 WIB

Wapres Jelaskan Potensi Produk Halal Indonesia

Potensi Indonesia sebagai pasar produk Muslim perlu diimbangi ekspor.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fuji Pratiwi
Wapres KH Ma'ruf Amin. Wapres menjelaskan potensi produk halal Indonsia saat membuka pameran Indonesia Industrial Moslem Exhibition (ii-Motion) 2021 secara virtual, Kamis (3/6).
Foto: Rilis
Wapres KH Ma'ruf Amin. Wapres menjelaskan potensi produk halal Indonsia saat membuka pameran Indonesia Industrial Moslem Exhibition (ii-Motion) 2021 secara virtual, Kamis (3/6).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi produsen dan eksportir produk halal terbesar di dunia. Hal ini didukung sumber daya yang dimiliki, termasuk potensi sektor industri di Tanah Air.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun mendorong potensi dan peluang tersebut agar dapat tumbuh secara optimal. Terlebih, Indonesia merupakan pasar besar bagi produk Muslim.

Baca Juga

"Sebesar 87,2 persen dari populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 276,3 juta jiwa adalah Muslim. Jumlah itu 12,7 persen dari populasi Muslim dunia," ujar Kiai Ma'ruf dalam pembukaan pameran Indonesia Industrial Moslem Exhibition (ii-Motion) 2021 secara virtual, Kamis (3/6).

Wapres menjelaskan, sektor industri halal merupakan bagian dari ekosistem dengan potensi ekonomi sangat besar, baik untuk saat ini maupun ke depannya. Berdasarkan laporan dari State of Global Islamic Economic Report 2020-2021, tingkat konsumsi masyarakat Muslim dunia mencapai 2,02 triliun dolar AS yang terserap di sektor makanan, farmasi, kosmetik, mode, perjalanan dan media atau rekreasi halal. 

"Tingkat konsumsi tersebut diproyeksi terus meningkat hingga mencapai 2,4 triliun dolar AS pada 2024 dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 3,1 persen," ujar Wapres.

Mengacu dari sumber data sama, peringkat Ekonomi Syariah Indonesia, yang diukur berdasarkan Indikator Ekonomi Islam Global, juga mengalami kenaikan. Pada 2019, Indonesia menduduki peringkat keempat dunia setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Indikator tersebut diukur dengan enam sektor, yaitu makanan dan minuman, jasa keuangan, perjalanan ramah muslim, modest fashion, farmasi dan kosmetik, serta media dan rekreasi.

Menurutnya, potensi Indonesia sebagai pasar produk Muslim perlu diimbangi dengan peningkatan kinerja ekspo Indonesia ke pasar negara-negara Organisasi Kerja sama Islam (OKI). Berdasarkan data OKI Economic Outlook 2020, di antara negara-negara anggota OKI, Indonesia menjadi eksportir terbesar kelima dengan proporsi 9,3 persen.

"Jika dibandingkan secara global, ekspor produk halal Indonesia saat ini baru berkisar 3,8 persen dari total pasar produk halal dunia," kata Kiai Ma'ruf.

Demi meningkatkan kontribusi tersebut, lanjut Kiai Ma'ruf, perlu dilakukan berbagai upaya strategis. Salah satunya melalui penyelenggaraan acara berskala nasional dan internasional demi mendorong promosi dan publikasi produk Muslim Indonesia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement