Yair Lapid, Sosok Di Balik Upaya Penggulingan Netanyahu

Jumat , 04 Jun 2021, 13:02 WIB Reporter :Kiki Sakinah/ Redaktur : Esthi Maharani
Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid, seorang sentris sekuler, telah terkunci dalam pembicaraan dengan nasionalis agama Naftali Bennett tentang persyaratan
Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid, seorang sentris sekuler, telah terkunci dalam pembicaraan dengan nasionalis agama Naftali Bennett tentang persyaratan

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Masa kekuasaan Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri Israel kemungkinan akan segera berakhir. Sebagai penggantinya, kepala partai nasionalis sayap kanan Yamina, Naftali Bennett, digadang akan segera menduduki jabatan perdana menteri, yang merupakan peran paling penting dalam politik Israel.

 

Terkait

Jika Netanyahu berhasil digulingkan, ini akan menjadi perkembangan bersejarah dalam politik Israel setelah Netanyahu menjabat selama 12 tahun lamanya. Mesin dan dalang sebenarnya di balik perkembangan dari konsekuensi yang berpotensi bersejarah itu adalah Yair Lapid, ketua partai Yesh Atid yang berhaluan tengah. Bersama Bennet, Lapid mengumumkan sebuah aliansi pada Ahad (30/5) lalu dalam upaya untuk menggulingkan Netanyahu.

Partainya memenangkan 17 kursi parlemen di putaran terakhir pemilihan di Israel, sedangkan Yamina meraih tujuh kursi parlemen. Dilansir di Middle East Eye, Kamis (3/6), Lapid menawarkan berbagi kekuasaan dan mengizinkan Bennet menjalani masa jabatan pertama sebagai perdana menteri dalam kepemimpinan bergilir.

Di usia 57 tahun, Lapid kini memainkan peran penting dalam politik Israel. Siapa sebenarnya sosok Lapid ini?

Lapid adalah mantan wartawan sebuah surat kabar yang kemudian memutuskan terjun ke dunia politik. Lapid merupakan seorang penulis yang produktif dan kolumnis populer untuk harian Yedioth Ahronoth, sesekali menjadi aktor dan penulis lagu, dan pembawa acara TV serta pembawa berita untuk program berita TV akhir pekan yang paling penting.

Saat ini, Lapid tengan dalam misi mengakhiri 12 tahun pemerintahan Netanyahu. Pemimpin terlama Israel itu kini tengah diadili atas sejumlah tuduhan korupsi. Karena itu, para pesaingnya mengutip kasus tersebut sebagai salah satu alasan utama mengapa Israel membutuhkan pemimpin baru. Mereka berargumen bahwa Netanyahu mungkin menggunakan masa kekuasaan baru untuk merancang cara agar ia kebal dari pertanggungjawaban hukum.

Namun, Lapid memahami bahwa hanya seorang kandidat dari sayap kanan yang berpeluang memimpin pemerintahan, bahkan jika ia membentuknya sendiri di belakang layar. Sebelumnya, Lapid telah menyerahkan sebuah rotasi kekuasaan dengan pemimpin partai Blue and White, Benny Gantz, selama pemilihan Januari 2019. Ketika itu, Lapid dianggap sebagai penghalang bagi pemilih yang tampaknya lebih menyukai kepala staf militer Israel ketimbang dirinya.

Kini, Lapid bisa memenuhi impian seumur hidupnya untuk menjadi perdana menteri di paruh kedua masa pemerintahan, jika pemerintahan koalisi yang dibentuk partai oposisi Israel terbentuk.

Jika itu terjadi, dia juga akan memenuhi komitmennya kepada ayahnya yang merupakan salah satu tokoh politik kenamaan di Israel, Yosef Lapid. Ayahnya berasal dari partai sentris Shinui, yang juga pernah menjadi jurnalis terkemuka dan kepala otoritas penyiaran Israel.

Menjelang kematian ayahnya pada 2008, Lapid diminta untuk menyelesaikan pekerjaan sang ayah. Kini, 13 tahun kemudian dan setelah 10 tahun berkecimpung dalam politik, Lapid mendekati harapan sang ayah.