Kisah Kesemarakan Haji-Umroh India Sebelum Tertelan Pandemi

Ahad , 06 Jun 2021, 10:38 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Calon jamaah haji India permit pergi haji dengan mezminta restu ibu dan keluarganya.
Calon jamaah haji India permit pergi haji dengan mezminta restu ibu dan keluarganya.

IHRAM.CO.ID, Ketika umat Islam tidak bisa melakukan haji dan umroh akibat pandemi, maka jelas terbayang terputusnya aliran ekonomi baik ke Saudi Arabia atau negara yang mendatangkan jamaahnya. Salah satu yang terdampak di antarana India. Bahkan, kini negara itu disebut menjadi negara yang terkena dampak terparah dari paparan Covid-19.

 

Terkait

Kisah maraknya arus ekonomi antara India dan Arab Saudi sebelum pandemi terekam pada kisah dari Al Jazeera. com: Hajjonomics: The business of getting India’s pilgrims to Mecca (Hajjonomics: Bisnis mengantar jamaah haji India ke Makkah). 

Kala itu, manakala  beberapa penerbangan terakhir yang membawa peziarah menuju Makkah berangkat, Afzal Patel merenungkan salah satu waktu tersibuk tahun ini untuk bisnis perjalanannya yang berkembang. “Tahun ini kami mengirimkan 150 orang haji,” kata Patel. 

Selain mantan seorang penjual ensiklopedia, Patel adalah direktur pelaksana Atlas Tours and Travels yang berbasis di Mumbai, salah satu operator tur paling terkenal di India untuk wisata religi. 

“Sementara rata-rata saya memiliki 400 hingga 500 pelanggan di Arab Saudi pada waktu tertentu, melayani para haji [peziarah] sangat penting bagi kami dan juga suatu kehormatan besar,” katanya. 

Ziarah haji terjadi setiap tahun dari tanggal 8 hingga 12 Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender Islam, dan diwajibkan bagi semua Muslim yang mampu secara fisik dan finansial untuk melakukan perjalanan tersebut. 

Inilah juga merupakan kunci dari bisnis Patel. Dikombinasikan dengan Umrah – ziarah non-wajib yang dapat dilakukan kapan saja – wisata religi mewakili 20 persen dari pendapatan tahunannya.

Keterangan foto: Afzal Patel, direktur pelaksana Atlas Tours and Travels yang berbasis di Mumbai, mengatakan bahwa wisata religi menyumbang 20 persen dari pendapatan tahunannya [Tish Sanghera/Al Jazeera]