Dipindah ke Pulau Baru, Pengungsi Rohingya Merasa Terjebak

Jumat , 11 Jun 2021, 05:39 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Esthi Maharani
Sekelompok pengungsi Rohingya di atas kapal angkatan laut saat mereka pindah ke Pulau Bhashan Char, di Chittagong, Bangladesh 29 Desember 2020. Kelompok kedua pengungsi Rohingya dipindahkan ke pulau Bhashan Char di bawah distrik Noakhali.
Sekelompok pengungsi Rohingya di atas kapal angkatan laut saat mereka pindah ke Pulau Bhashan Char, di Chittagong, Bangladesh 29 Desember 2020. Kelompok kedua pengungsi Rohingya dipindahkan ke pulau Bhashan Char di bawah distrik Noakhali.

IHRAM.CO.ID, DHAKA -- Lembaga hak asasi manusia, Human Rights Watch melaporkan bahwa pengungsi Rohingya yang pindah ke pulau Bangladesh merasa khawatir akan menghadapi kondisi yang mengerikan selama musim hujan yang akan datang. Terlebih fasilitas kesehatan dan pendidikan yang disebut tidak memadai di kamp tersebut.

 

Terkait

Dilansir dari Aljazirah, sekitar 18.800 pengungsi telah dipindahkan dari wilayah Cox's Bazar ke pulau rendah lumpur Bhasan Char di Teluk Benggala. Seorang juru bicara kantor Perdana Menteri mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa 80 ribu orang Rohingya lainnya akan segera dipindahkan ke pulau itu.

Pemerintah Bangladesh bersikeras relokasi itu bersifat sukarela, dan bahwa pulau itu aman dari topan dan fasilitasnya jauh lebih baik daripada kamp Cox's Bazar. Direktur proyek Bhashan Char, Abdullah Al Mamun Chowdhury telah meyakinkan bahwa pulau itu memiliki persiapan yang cukup untuk mengatasi musim hujan dan gelombang pasang.

“Bhashan Char memiliki total 120 pusat penampungan topan.  Masing-masing pusat ini dapat menampung 1.000 orang dan 200 ternak selama badai.  Mereka juga sedang dibangun secara sistematis.  Saya tidak berpikir ada pengungsi yang tinggal di sini dalam bahaya,” katanya.

Chowdhury juga mengatakan semua pengungsi Rohingya yang datang untuk tinggal di Bhashan Char telah melakukannya dengan sukarela.  "Mereka tidak dipaksa untuk datang ke sini,"terangnya.

Tetapi Human Rights Watch mengatakan, setelah mewawancarai 167 pengungsi, mereka telah dipindahkan tanpa persetujuan penuh dan dicegah untuk kembali ke daratan. Para pengungsi juga berbicara tentang kekurangan fasilitas kesehatan dan pendidikan untuk anak-anak mereka, kata laporan setebal 58 halaman itu.

Yang lain khawatir musim hujan yang dimulai pada bulan Juni dapat membuat mereka terkena angin kencang dan banjir di pulau itu. Human Rights Watch mengakui bahwa Bangladesh telah murah hati dan penuh kasih dalam melindungi Rohingya tetapi hak-hak mereka harus dilindungi.

“Pemerintah Bangladesh merasa sulit untuk mengatasi lebih dari satu juta pengungsi Rohingya, tetapi memaksa orang ke pulau terpencil hanya menciptakan masalah baru,” Bill Frelick, direktur hak migran dan pengungsi HRW, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Donor internasional harus membantu Rohingya, tetapi juga bersikeras agar Bangladesh mengembalikan pengungsi yang ingin kembali ke daratan atau jika para ahli mengatakan kondisi pulau terlalu berbahaya atau tidak berkelanjutan,"ungkapnya.

Menteri Luar Negeri Bangladesh AK Abdul Momen membalas laporan itu, mengatakan kepada AFP bahwa apa pun sumber daya yang mereka miliki, mereka telah berusaha memberikan layanan terbaik kepada orang-orang ini.

“Negara mereka sangat maju. Jika mereka memiliki banyak simpati, biarkan mereka membawa mereka kembali ke negara mereka,” kata Momen tentang Human Rights Watch yang berbasis di New York.

“Saya minta maaf kami tidak dapat memiliki fasilitas yang lebih baik karena kami bukan negara kaya.  Kami tidak mampu menyediakan lebih banyak barang,"ujarnya.

Pada hari Jumat, sebuah kapal yang dipenuhi dengan lusinan Rohingya mendarat di lepas pantai Indonesia setelah perjalanan selama berbulan-bulan  yang terbaru dalam gelombang kedatangan dari kamp-kamp sempit di Bangladesh.

Polisi Bangladesh juga telah menangkap Rohingya yang mencoba melarikan diri dari Bhashan Char, sementara ribuan orang memprotes kondisi di pulau itu pekan lalu selama kunjungan oleh badan pengungsi PBB.