Jumat 11 Jun 2021 16:50 WIB

Penolakan Film Penembakan Christchurch Jadi Trending

Komunitas Muslim Selandia Baru menolak adanya film penembakan Masjid Christchurch.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Agung Sasongko
Perdana Menteri Jacinda Ardern (tengah, berkerudung krem) meresmikan plakat peringatan bagi korban teror penembakan di Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru, Kamis (24/9).
Foto: AP Photo/Mark Baker
Perdana Menteri Jacinda Ardern (tengah, berkerudung krem) meresmikan plakat peringatan bagi korban teror penembakan di Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru, Kamis (24/9).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Muslim Selandia Baru lebih memilih fokus untuk mendukung adanya aturan yang melindungi komunitas Muslim ketimbang menyaksikan film yang mengisahkan kejadian Islamofobia. Demikian respons komunitas Muslim terkait rencana pembuatan film penembakan Masjid Chrischurch.

"Perlu ada banyak pekerjaan yang dilakukan di Selandia Baru dalam hal undang-undang ujaran kebencian, mengakui Islamofobia memang ada di masyarakat kita dan prasangka institusional dalam aparat pemerintah kita sebelum sebuah film blockbuster keluar yang menyatakan bahwa kita telah melakukan pekerjaan dengan baik di sini, di Selandia Baru," kata Juru Bicara Asosiasi Muslim Canterbury, Abdigani Ali, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters, Jumat (11/6).

Baca Juga

Menurut Hollywood Reporter, film tersebut akan berjudul They Are Us. Ceritanya akan fokus pada tanggapan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern atas serangan terhadap dua masjid oleh seorang supremasi kulit putih pada 15 Maret 2019.

Judul tersebut diambil dari kata-kata Ardern pada hari serangan itu. Tanggapan penuh kasih dari pemimpin berusia 40 tahun itu terhadap serangan menyatukan negaranya dan mendapatkan pujian secara global.

"Meskipun pengakuan perdana menteri kami atas tanggapannya terhadap serangan memang pantas, kami mempertanyakan waktu dan apakah film tepat sekarang? Serangan teroris masih mentah untuk komunitas kami," ujar Ali.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement