Arung Sungai Penuh Buaya di Pantai Ujung Aceh

Senin , 14 Jun 2021, 05:33 WIB Reporter :Rusdy Nurdiansyah/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Buaya Pantai (ilustrasi)
Buaya Pantai (ilustrasi)

Setelah melalui muara sungai yang penuh dengan buaya, kami tiba di pantai berpasir putih yang merupakan tempat Tuntong bertelur dan ternyata sudah menjadi tempat ekowisata Pantai Ujung Aceh Tamiang.

 

Terkait

"Tuntong adalah salah satu satwa yang keberadaannya sudah sulit sekali ditemukan, terutama di Indonesia. Dan, saat ini habitatnya cuma ada Pantai Ujung Aceh Tamiang," ujar Pendiri dan Peneliti YSCLI, Joko Guntoro.

Sejak 2011, YSCLI melakukan pelestarian Tuntong di pesisir pantai Kabupaten Aceh Tamiang yakni Pantai Pusung Putus, Pantai Pusung Cium dan Pantai Pusung Ujung Tamiang. Beberapa langkah pelestarian yang dilakukan meliputi pengamatan, penyelamatan serta penangkaran. 

"Penyebab kepunahan, salah satunya karena ulah manusia. Tuntong sering kali diburu oleh Suku Tamiang yang merupakan salah satu penduduk asli Kabupaten Aceh Tamiang. Telur-telur Tuntong untuk dikonsumsi karena merupakan salah satu bahan utama hidangan tradisional masyarakat Aceh Tamiang yang dinamakan Tengulik. Sementara Tuntong kecil atau dewasa sering dijadikan hewan peliharaan dan ada juga yang dijual ke kolektor satwa langka hingga mencapai Rp 10 juta," ungkap Joko.

Menurut Joko, Tuntong menempati urutan ke-25 dari daftar spesies Kura-Kura yang terancam punah. Data tersebut adalah hasil riset yang dilakukan oleh International Union for Conservation of Nature, yang merupakan lembaga rujukan untuk tingkat keterancaman flora dan fauna di dunia. 

"Proses pertumbuhan Tuntong dari telur hingga dewasa memakan waktu yang cukup lama. Dibutuhkan waktu delapan tahun bagi seekor Tuntong untuk menginjak usia dewasa dan siap bereproduksi. Setiap kali bertelur, Tuntong dapat menghasilkan 12 hingga 24 telur. Selain itu, telur-telur tersebut membutuhkan suhu stabil dengan kisaran 26 hingga 32 derajat celcius agar dapat benar-benar menetas," jelasnya.