Haji Mambrur Menurut Pesepektif Sufistik

Rabu , 16 Jun 2021, 07:43 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Petugas membantu seorang jamaah calon haji saat menaiki pesawat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Indonesia, Sabtu 20 Juni 2019. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Aceh membagi 12 kelompok terbang, sebanyak 393 JCH kloter 1 diberangkatkan dari Embarkasi Aceh.
Petugas membantu seorang jamaah calon haji saat menaiki pesawat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Indonesia, Sabtu 20 Juni 2019. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Aceh membagi 12 kelompok terbang, sebanyak 393 JCH kloter 1 diberangkatkan dari Embarkasi Aceh.

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Mokh Syaiful Bahri dalam perspektif sufistik, orang yang sudah menunaikan ibadah haji itu belum tentu benar-benar telah menunaikan ibadah haji. Terlebih lagi bila mengabaikan amalan-amalan hakiki dari ibadah haji itu sendiri.

 

Terkait

"Boleh jadi dia telah menunaikan ibadah haji, namun sejatinya dalam perspektif sufistik dia belum menunaikan ibadah haji," katanya dalam bukunya "

 

Singkatnya, ibadah haji hanya bersifat lahiriah semata, sedangkan batiniahnya tidak. Kenyataan inilah yang membuat Asy-Syibli menangis sepulang dari menaikkan ibadah haji.

 

Karena setelah melaporkan pengalaman ibadah hajinya kepada Imam Ali Zainal Abidin dan mendapatkan beberapa pertanyaan yang mendalam tentang amalan hakiki ibadah haji Asy-Syibli menyadari bahwa sejatinya dia belum berhaji. 

 

Berikut di antara pertanyaan substansial yang diajukan Imam Ali Zainal Abidin kepada Asy-Syibli "Wahai Syibli ketika engkau sampai di miqat dan menanggalkan semua pakaian berjahit qpakah engkau juga menanggalkan semua pakaian kemaksiatan dan mulai mengenakan pakaian ketaatatan?"

 

"Dan apakah pada saat menanggalkan semua pakaian terlarang itu, apakah engkau juga menanggalkan dari dirimu semua sifat riya (mengerjakan suatu amalan agar memperoleh pujian dari manusia), nifaq (sifat kemunafikan) dan segala yang diliputi syubhat (segala sesuatu yang meragukan keharaman atau kehalalannya)?"

 

"Ketika engkau berihram, apakah engkau juga bertekad mengharamkan atas dirimu segala yang diharamkan oleh Allah SWT?"

 

"Ketika engkau menuju ke Makkah, apakah engkau berniat untuk berjalan menuju Allah?"

 

"Ketika engkau memasuki Masjidil Haram, pakah engkau berniat untuk menghormati hak-hak orang lain dan tidak akan menggunjingkan terhadap sesama umat Islam?"

 

"Ketika engkau sai, apakah engkau merasa sedang lari menuju Tuhan di antara cemas dan harap?"

 

"Ketika engkau wukuf di arafah, apakah engkau merasa bahwa Allah mengetahui segala kejahatan yang ada di dalam hatimu?"

 

"Ketika engkau berangkat ke mina, apakah engkau bertekad untuk tidak mengganggu orang lain dengan lidahmu tanganmu dan hatimu?

 

"Dan ketika engkau melempar jumroh, apakah engkau berniat memerangi iblis selama sisa hidupmu? 

 

Ternyata untuk semua pertanyaan itu, Asy-Syibli mengakui belum melaksanakan semuanya. Dengan sejujurnya dia mengatakan "tidak".

 

Untuk setiap pertanyaan yang diajukan oeh cucu Rasulullah SAW itu maka Imam Ali Zainal Abidin mengatakan: "Kalau begitu engkau belum ke miqat, belum ihram, belum thawaf,  belum sai, belum wukup, dan belum sampai ke Mina.

 

"Maka Kembalilah! Kembalilah! Kembalilah! Sebab engkau sebenarnya belum menunaikan ibadah haji!

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini