Rabu 16 Jun 2021 08:22 WIB

Vaksin Sputnik V Diklaim Efektif Melawan Varian Delta

Sputnik V diklaim lebih efisien lawan varian Delta yang awalnya ditemukan di India

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Christiyaningsih
Seorang pria Palestina menerima suntikan vaksin virus corona Sputnik V buatan Rusia, di sebuah klinik UNRWA di Kota Gaza, Rabu (17/3).
Foto: AP/Khalil Hamra
Seorang pria Palestina menerima suntikan vaksin virus corona Sputnik V buatan Rusia, di sebuah klinik UNRWA di Kota Gaza, Rabu (17/3).

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW — Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) mengklaim vaksin Sputnik V lebih efektif melawan jenis virus corona India daripada vaksin lain. Pernyataan itu diklaim berdasarkan studi yang dilakukan.

"Sputnik V lebih efisien melawan varian Delta dari coronavirus yang pertama kali terdeteksi di India daripada vaksin lain yang menerbitkan hasil pada jenis ini sejauh ini. Itu berdasarkan studi Pusat Gamaleya yang diajukan untuk publikasi dalam jurnal peer-review internasional," demikian pernyataan RDIF dikutip TASS, Rabu (16/6).

Baca Juga

Sebenarnya pernyataan itu juga pernah dilontarkan oleh kepala Pusat Penelitian Nasional Gamaleya untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi Rusia, Alexander Gintsburg, pada April lalu. Menurutnya, vaksin Sputnik V menghasilkan cukup antibodi untuk memerangi jenis virus corona di India.

Hal itu didukung oleh studi pada awal Februari lalu melalui The Lancet, sebuah jurnal medis yang diakui dunia. Dalam pemaparannya, dijelaskan hasil uji klinis fase ketiga Sputnik V telah dilakukan dan suntikannya telah terbukti menjadi salah satu yang paling aman dan paling efisien di dunia. Dikatakan kemanjurannya diperkirakan mencapai 91,6 persen.

Hingga kini, Sputnik V telah terdaftar di sekitar 60 negara dengan total populasi lebih dari 1,5 miliar orang. Lebih dari 30 negara telah memulai vaksinasi massal dengan Sputnik V.

Rusia memang menjadi yang pertama di dunia menggunakan vaksin ini pada Agustus 2020 silam. Kendati demikian, Rusia nyatanya berjuang cukup keras untuk mengajukan pendaftaran di Uni Eropa dan WHO. Akhirnya pada 4 Maret regulator UE melaporkan bahwa tinjauan bergulir terhadap vaksin Rusia telah dimulai.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement