Kisah Batu Jumrah yang Menyelamatkan Al-Wasithi dari Neraka

Kamis , 17 Jun 2021, 12:25 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Kisah Batu Jumrah yang Menyelamatkan Al-Wasithi dari Neraka. Foto:   Lontaran kerikil di Jumrah Aqabah menjadi lambang permusuhan abadi manusia dengan syaitan hingga akhir jaman.
Kisah Batu Jumrah yang Menyelamatkan Al-Wasithi dari Neraka. Foto: Lontaran kerikil di Jumrah Aqabah menjadi lambang permusuhan abadi manusia dengan syaitan hingga akhir jaman.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA--Ibrahim Al-Wasithi merupakan seorang sufi yang masyhur. Dalam mimpinya wali Allah yang hidup pada abad keempat Hijriyah ini ia digiring masuk nereka, namun batal karena syafaat dari batu-batu krikil yang dipakainya melempar jumrah saat ibadah haji.

 

Terkait

Berikut kisah Al-Wasithi seperti dikisahkan Mokh Syaiful Bakhri dalama bukunya 'Belum Haji Sudah Mabrur'. 

Baca Juga

Suatu ketika, rombongan haji yang dipimpin Al-Wasithi bersiap meninggalkan Arafah berangkat menuju Mudzalifah, Mina untuk menunaikan mabit, dan melempar jumrah, sisa manasik haji yang masih belum dilaksanakan. Ketika itu pimpinan rombongan al-Wasith tertidur karena kelelahan.

"Dalam tidurnya ia bermimpi bahwa hari kiamat telah tiba," tulis Mokh Syaiful Bakhri.

Dalam mimpinya itu terlihat lautan manusia tengah berdiri menunggu hisab dari Allah. Suasana seperti di padang arafah di mana jutaan manusia berdiri dengan mengenakan pakaian yang sama, kini terlihat lagi dalam mimpinya dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Dia saksikan betapa dahsyatnya hari itu titik semua manusia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ketika itu semua manusia menyesali dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, betapapun kecilnya dosa-dosa itu. 

"Tak terlihat seorang anak mau menolong ayahnya," gumam Al-Wasithi.

Ia juga tak terlihat seorang istri yang memikirkan suaminya. Semuanya larut dalam memikirkan keselamatan diri mereka sendiri di hadapan hisab dari Allah yang Maha Adil. Ketika saat dihisab sudah tiba, satu demi satu manusia dihisab dan ditimbang amalnya. 

Tidak ada yang merasa dizalimi atau diperlakukan sewenang-wenang oleh Allah. Dan semua amal dihitung dengan seadil-adilnya oleh Allah tanpa ada sekecil zarrah amal pun yang terlewatkan.

Tiba giliran al-Wasith untuk dihisab. Wajahnya berubah pucat, dengan diliputi perasaan cemas, dia menantikan hasil dari perhisaban, apakah dia akan selamat kemudian dimasukkan ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan atau celaka kemudian dimasukkan ke dalam neraka yang penuh dengan siksaan?.

Betapa terkejutnya al-Wasith ketika tiba-tiba dia digiring ke arah api neraka setelah dihisab. Dia menangis dan memohon pertolongan namun pada hari itu siapa yang dapat mendengar tangisannya dan memberi pertolongan kepadanya?

Dia merintih dan menjerit dan memohon supaya bisa dikembalikan lagi ke dunia untuk bisa beramal saleh sebentar saja. Namun, hari itu adalah hari pembalasan, bukan hari amal. Dahulu di dunia manusia telah diberi kesempatan oleh Allah untuk beramal saleh namun tidak jarang manusia yang lalai dan mengabaikannya.

Setibanya, Al-Wastihi di pintu neraka, dan ketika dia hampir dijebloskan ke dalam kobaran api, tiba-tiba ada sebuah batu yang menutupi pintu neraka. Malaikat azab yang mengawal al-Wasith ke neraka berusaha menggeser batu tersebut, namun tak kuasa menggesernya. 

Kemudian Al-Wasthi digiring ke pintu neraka yang kedua, namun ada batu lainnya yang menutupi pintu neraka kedua itu. Begitulah seterusnya hingga pintu neraka yang ketujuh. Setiap kali batu itu menutupi pintu neraka, batu itu memberikan persaksian.

"Ya Allah kami adalah batu-batu kerikil di Arafah. Kami menyaksikan bahwa Sifulan ini telah berikrar dan bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah seorang hamba utusan Allah. Di sana kemudian Allah berfirman

"Batu-batu Arafah itu telah menyaksikan ikrar dan syahadahmu dan mereka tidak menyia-nyiakanmu. Karena itu, mana mungkin Aku akan menyia-nyiakan ikrarmu. Aku terima syahadah dan kesaksianmu. Dan kini masukkanlah ke dalam surga aku."

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini