Serangan Israel dan Pawai Pemicu Rasisme

Jumat , 18 Jun 2021, 05:05 WIB Reporter :Zainur mahsir ramadhan/ Redaktur : Esthi Maharani
Seorang pengunjuk rasa membawa bendera Palestina
Seorang pengunjuk rasa membawa bendera Palestina

IHRAM.CO.ID, TEL AVIV — Rabu pagi kemarin, pesawat Israel kembali melakukan serangan di beberapa lokasi militan di jalur Gaza. Menurut militer Israel, serangan itu, menargetkan fasilitas yang digunakan oleh gerilyawan Hamas untuk merencanakan serangan.

 

Terkait

Kejadian itu, hanya berselang sehari pasca ratusan ultranasionalis Israel melakukan parade dan meneriakkan kata-kata rasis ‘matilah orang Arab’, di Yerusalem Timur. Berdasarkan pantauan, pawai yang diiringi musik meriah itu, didominasi lelaki muda yang memegang bendera Israel sambil menyanyikan lagu religi mereka.

“Matilah orang Arab. Semoga desamu terbakar!” sahut para lelaki Israel dalam pawai itu dikutip Saudi Gazette, Kamis (17/6).

Menanggapinya, kelompok Hamas meminta warga Palestina untuk menunjukkan perlawanan yang berani atas pawai tersebut. Hamas mendesak orang-orang untuk berkumpul di Kota Tua dan di Masjid Al-Aqsa agar bangkit menghadapi penjajah dan melawannya dengan segala cara.

Alhasil, pada sore harinya, warga Palestina dengan Hamas meluncurkan beberapa balon pembakar dari Gaza, yang kemudian menyebabkan setidaknya 10 kebakaran di Israel selatan. Bagi warga Palestina, pawai itu, seakan merayakan penaklukkan Yerusalem Timur oleh Israel pada 1967 silam, dan provokasi terhadap mereka di masa kini.

Meski pawai dan teriakan itu nyaring di dunia maya, Menteri Luar Negeri Israel, Yair Lapid, dalam kicauannya mengatakan, mereka yang meneriakkan slogan-slogan rasis adalah “aib bagi rakyat Israel”. Dia juga menegaskan, fakta jika ada kaum radikal berbendera Israel tak terhindarkan dan tidak bisa dimaafkan.

Namun demikian, pernyataannya itu seakan tidak kontras dengan kepolisian Israel. Pasalnya, menjelang pawai, kepolisian malah membersihkan area di depan Gerbang Damaskus dan menutup jalan untuk lalu lintas serta memerintahkan toko-toko untuk tutup dan mengusir pengunjuk rasa asal Palestina.

Lebih lanjut, Kepolisian mengatakan, petugas berhasil menangkap 17 orang yang dicurigai terlibat dalam kekerasan, beberapa di antaranya melemparkan batu dan menyerang polisi. Sementara pihak Palestina mengatakan, lima orang terluka dalam bentrokan dengan polisi.

Parade tersebut memberikan tantangan awal bagi perdana menteri baru Israel, Naftali Bennett, seorang nasionalis Israel garis keras yang telah menjanjikan pendekatan pragmatis saat ia memimpin pemerintahan koalisi yang beragam dan halus.

Terpisah, Mansour Abbas dari faksi Arab pertama yang bergabung dengan koalisi Israel mengatakan, pawai itu adalah upaya untuk membakar wilayah tersebut demi tujuan politik. Utamanya, dengan maksud untuk merongrong pemerintah baru.

Abbas mengatakan, polisi dan menteri keamanan publik seharusnya membatalkan acara tersebut. “Saya menyerukan kepada semua pihak untuk tidak terseret ke dalam eskalasi dan menjaga pengendalian diri secara maksimal,” katanya.

Lebih jauh, Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh, menyebut jika pawai tersebut merupakan agresi terhadap rakyatnya. Mendukung pernyataannya, dia juga mengutip kondisi negara tetangga di Yordania, yang mengutuk pawai itu.

Seperti diketahui, pasca merebut Yerusalem Timur pada tahun 1967, Israel mencaploknya dalam sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional. Israel sejak saat itu menganggap seluruh kota sebagai ibu kotanya.

Hal itu juga diperjuangkan oleh warga Palestina, untuk menjadikannya ibu kota masa depan Palestina. Klaim bersaing atas kepemilikan Yerusalem timur, rumah bagi situs suci Yahudi, Kristen dan Muslim, masih terus berlangsung hingga kini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini