Covid Jangan Diremehkan, Apalagi Dianggap tak Ada!

Jumat , 18 Jun 2021, 21:42 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Pekerja mengangkat tabung oksigen di depot pengisian oksigen medical, Manggarai, Jakarta, Jumat (18/6). Menurut pemilik depot pengisian oksigen, Ervan mengungkapkan permintaan oksigen pada seminggu terakhir mengalami peningkatan mencapai 50 persen seiring dengan jumlah pasien covid-19 di DKI Jakarta mengalami lonjakan sebanyak 4.144 kasus positif Covid-19 pada Kamis (17/6) atau mendekati kasus lonjakan tertinggi pada 7 Februari lalu sebanyak 4.213 kasus. Republika/Thoudy Badai
Pekerja mengangkat tabung oksigen di depot pengisian oksigen medical, Manggarai, Jakarta, Jumat (18/6). Menurut pemilik depot pengisian oksigen, Ervan mengungkapkan permintaan oksigen pada seminggu terakhir mengalami peningkatan mencapai 50 persen seiring dengan jumlah pasien covid-19 di DKI Jakarta mengalami lonjakan sebanyak 4.144 kasus positif Covid-19 pada Kamis (17/6) atau mendekati kasus lonjakan tertinggi pada 7 Februari lalu sebanyak 4.213 kasus. Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis jantung di sebuah rumah sakit di kawasan Tangerang Selatan, Berlian Idris, meminta masyarakat jangan lagi meremehkan Covid-19 tak ada atau bersikap meremehkannya. Sebab, pada kenyataannya saat ini angka orang yang terpapar Covid-19, apalagi khususnya di Jabobatek, terus-menerus meningkat dari hari ke hari.

 

Terkait

''Saya himbau masyarakat jangan lagi remehkan dan anggap Covid-19 tak ada. Kenyataan ini jelas salah. Kenyataanya kini rumah sakit dan paramedis kewalahan memberikan layanan perawatan kepada yang terpapar. Ketersediaan kamar perawatan terus menipis. Bahkan di DKI tingkat ketersediannya sudah mulai mengkhawatirkan karena tingkat keterisiannya sudah mencapai 84 persen,'' kata dr Berlian Idris dalam perbincangan dengan Republika.co.id, Jumat malam (18/6).

Selanjutnya Berlian mengatakan, dari pembicaraan di kalangan grup para medis, jumlah pasien dan permintaan perawatan pasien Covid-19 kini semakin gencar. Bahkan, banyak keluarga dari para medis juga mengeluhkan sulitnya mencari ruang perawatan karena sudah banyak ruang perawatan yang telah penuh terisi. 

''Di rumah sakit saya pun begitu. Kini jumlah pasien Covid naik dratis. Padaha sepuluh hari lalu jumlah pasien ini hanya satu-dua orang saja. Ini yang membuat kami prihatin. Apalag banyak laporan para medis dan keluarganya juga ikut terpapar. Bahkan, ada pasien biasa yang harus menggunakan kamar IGD terpaksa pulang karena ruang  itu penuh dengan pasien Covid,''ujar Billi yang di zaman reformasi di 1998 adalah Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia.

Menurut Billy, sekarang tidak lagi ada tempat untuk terus memperdebatkan sumber atau penyebab dari naiknya Covid-19 itu. Ini karena yang sekarang penting serta mutlak dilakukan adalah tindakan nyata dari warga, para medis, dan pemerintah untuk bahu membahu mengatasi keadaan. Masyarakat misalnya harus taat pada prokes (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, mengurangi mobilitas). 

''Jadi tak hanya bergantung pada pemerintah dan para medis saja. Tapi masyarakat juga harus paham dan mentaati segala aturan pencegahan pandemi Covid-19. Ingat, naiknya Covid-19 kali ini bukan hanya karena mudik atau mobilitas saja, tapi karena banyak individu masyarakat yang tak peduli, serta juga adanya virus Covid-19 varian baru yang datang dari  India. Jadi semua pihak harus saling bantu sebab Covid kali ini lebih ganas dan cepat menular,'' ujarnya.

Menjawab pertanyaan mengenai mulai munculnya sinyalemen dari media massa asing yang menyebut pandemi Covid-19 di Indonesia sudah seperti India, Billy mengatakan hal itu belum terjadi. Yang pasti memang harus ada usaha yang segera dan cepat untuk mengatasi dan menurunkan angka penyebaran Covid-19 yang angkanya kini terus naik itu.

''Sekarang, ruangan masih tersedia dan oksigen masih ada. Jadi belum separah India yang layanan kesehatan di sana sampai kolaps. Dan agar tidak sampai seperti itu maka kita mulai sekarang harus mawas diri. Jangan sampai pandemi kita setragis di India. Semua harus optimis segera bisa diatasi,'' tegasnya.

Kepada masyarakat, Billy kemudian meminta agar terus menjaga kesehatan dirinya masing-masing. Caranya harus menjaga makanan, berolaraga dengan terkena matahari secara teratur, mengkonsumsi sayuran dan buah.

''Untuk soal bahan makanan, pemerintah di sini memang harus ikut menjaga suplainya. Mau tidak mau harus ada bantuan sosial lagi dan jangan dikorupsi seperti dahulu itu. Kelompok masyarakay yang berpunya membantu mereka yang tidak berada. Saling mengingatkan untuk menjaga imunitas diri dan kesehatan. Istilahnya saling gotong royong dan saling mendoakan,'' kata Billy menandaskan.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini