Jamur Hitam Berbahaya Ditemukan pada Pasien Covid-19 di Oman

Ahad , 20 Jun 2021, 15:45 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Esthi Maharani
Ilustrasi Covid-19
Ilustrasi Covid-19

IHRAM.CO.ID, MUSKAT -- Para dokter Oman pada Selasa (15/6), mendeteksi temuan infeksi jamur yang berpotensi fatal bernama mucormycosis atau jamur hitam. Infeksi jamur hitam ini ditemukan pada beberapa pasien virus corona.

 

Terkait

Para dokter pertama kali menemukan infeksi jamur hitam pada pasien Covid-19 di Semenanjung Arab, ketika kesultanan menghadapi lonjakan infeksi Covid-19 yang membanjiri rumah sakitnya. Kementerian Kesehatan Oman, melaporkan bahwa ada tiga pasien Covid-19 di Oman yang telah terinfeksi mucormycosis.

Meskipun relatif jarang, penyakit ini telah menimbulkan kekhawatiran di antara pihak berwenang bahwa peningkatannya yang tiba-tiba dapat mempersulit upaya untuk memerangi Covid-19. Belum dijelaskan secara detail kondisi apa yang dialami ketiga pasien tersebut.

Pejabat kesehatan Oman memperingatkan, awal pekan ini bahwa kesultanan menghadapi kekurangan tempat tidur di tengah penyebaran varian virus yang sangat mudah menular, peluncuran vaksin yang lamban, dan pembatasan pergerakan yang longgar.

Kondisi jamur menjadi penyebab kekhawatiran yang berkembang selama gelombang virus corona yang menghancurkan di India. Negara-negara lain, termasuk Mesir, telah melaporkan kasus yang tersebar dalam beberapa bulan terakhir ketika infeksi melonjak. Jamur hitam ada di India sebelum gelombang virus, tetapi memicu ketakutan karena menyerang ribuan pasien Covid-19 yang terinfeksi atau baru saja pulih.

Dilansir dari Alarabiya, Ahad (20/6), Mucormycosis disebabkan oleh paparan jamur mucor, yang biasa ditemukan di tanah, udara dan bahkan di hidung dan lendir manusia. Ini menyebar melalui saluran pernapasan dan mengikis struktur wajah. Terkadang, dokter harus mengangkat mata pasien melalui pembedahan untuk menghentikan infeksi agar tidak mencapai otak.

Infeksi jamur memangsa pasien dengan sistem kekebalan yang lemah dan kondisi yang mendasarinya, terutama diabetes, serta penggunaan obat virus corona yang dijual bebas secara berlebihan, seperti steroid. Gula darah yang tidak terkontrol dapat menempatkan orang dengan sistem kekebalan pada risiko yang lebih tinggi untuk tertular penyakit ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini