Sembilan Ketentuan Harus Menjadi Pegangan Jamaah Haji 

Ahad , 20 Jun 2021, 18:44 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Sembilan Ketentuan Harus Menjadi Pegangan Jamaah Haji. Foto: Jamaah haji melaksanakan shalat di dalam Masjid Namira di Arafah mengenakan masker dan menjaga jarak sosial untuk melindungi diri mereka terhadap virus corona di dekat kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis (30/7/2020).
Sembilan Ketentuan Harus Menjadi Pegangan Jamaah Haji. Foto: Jamaah haji melaksanakan shalat di dalam Masjid Namira di Arafah mengenakan masker dan menjaga jarak sosial untuk melindungi diri mereka terhadap virus corona di dekat kota suci Mekah, Arab Saudi, Kamis (30/7/2020).

IHRAM.CO.ID,--KH. Dr. K.H Asep Zaenal Ausop M.Ag mengatakan ada sembilan ketentuan yang harus menjadi pegangan utama seorang jamaah haji dalam melaksanakan ibadah haji. Di antara sembilan ketentuak itu di antaranya:

 

Terkait

Pertama tidak berdasarkan kata orang.

Baca Juga

Berhaji yang hanya berdasarkan kata orang, tidaklah terjamin kebenarannya. Sikap yang benar ialah berhaji harus berdasarkan ilmu, bukan berdasarkan persepsi. Setiap episode ibadah jika dari niat hingga tahallul telah dijelaskan di dalam Alquran dan hadis Rasulullah SAW tanpa perlu menggunakan rasio atau pemikiran pribadi.

"Apalagi sekadar berita yang tidak jelas sumbernya," kata KH Asep dalam bukunya 'Haji Falsafah, Syariah & Rihlah'.

Kedua tidak karena figur

Jangan sekali-kali berhaji hanya karena melihat figur pembimbingnya. Karena figur pembimbing tidak menjamin kebenaran. Figur dan panutan kita ialah Rasulullah SAW dan para sahabatnya, bukan orang yang justru menyalahi sunnah Rasulullah SAW.

Ketiga tidak karena mayoritas

Jamaah haji tidak boleh terikat oleh dan bergantung pada tata cara haji mayoritas jamaah, sebab mayoritas tidak menjamin orisinalitas sebuah ajaran atau pelaksanaan ibadah.

Keempat tidak berdasarkan pengalaman sendiri

Pelaksanaan ibadah haji juga jangan didasarkan pengalaman pribadi atau orang lain karena pengalaman belum tentu sesuai dengan tuntunan Rasulullah.  Misalnya, ketika seseorang sudah melaksanakan haji ditanya oleh seorang calon jamaah haji: 

"Bagaimana cara melakukan mabit yang benar di Muzdalifah tanda tanya "dia menjawab kamu dulu" tahun sekian, saya mempunyai pengalaman mabit di Muzdalifah itu seperti ini.. "

"Pengalaman yang diceritakan itu bukanlah sumber kebenaran. Dia juga belum tentu benar. Bahkan, boleh jadi dia menyalahi aturan yang telah disebutkan oleh Alquran dan hadits," katanya.

Kelima, jangan takut berbeda dengan orang lain. Sangatlah mungkin bahwa apa yang kita pelajari, yakni dan praktikkan selama berhaji, berbeda dan berseberangan dengan pendapat dan praktik haji Kebanyakan orang. 

"Kita tidak perlu berkecil hati jangan merasa riskan jika ada beberapa bagian ibadah haji kita yang berbeda dengan orang lain," katanya.

Aturan yang harus dipegang adalah Alquran dan Sunnah. Jadi, kata KH Asep sepanjang yang kita lakukan itu cocok dan sesuai dengan Alquran dan Sunnah walaupun seorang diri, tidak perlu takut. 

Ibn Mas'ud ra berkata: "Sesungguhnya Jamaah itu apa-apa yang sesuai dengan Alquran dan asunnah, walaupun kamu seorang diri."

Keenam, jangan pesimis

Sesuatu yang sudah kita yakini kebenaran kadang-kadang masih diiringi oleh rasa pesimis dan ragu-ragu untuk melaksanakan. Dalam hal ini jangan sekali-kali kita merasa pesimis dan ragu untuk melaksanakannya bagi bagian demi bagian ibadah haji.

"Misalnya, merasa takut terjepit ketika melempar jumroh, takut berdasarkan ketika melakukan tawaf, takut karena panas manakala kita wukuf," katanya

Karena kata KH Asep perlu diingat, perasaan takut itu akan membawa kita pada kegelisahan dan ketidak sesuaian. Setiap jamaah haji harus mencoba apa yang harus dilakukannya. Jika kemudian ternyata tidak mampu, barulah dia boleh mengambil yang lebih ringan. 

"Yakinlah bahwa Allah SWT sudah mempertimbangkan segala aturannya agar sesuai dengan kemampuan manusia," katanya.

Ketujuh, harus istiqomah

Ibadah haji harus dilaksanakan secara Istiqomah, konsisten, dan sesuai dengan dalil yang shahih. Dengan pernah mudah goyah dan terbawa oleh ingin pendapat orang lain yang muncul kemudian, yang entah sengaja atau tidak saja sengaja, melakukan pelemahan hasrat.

Kedelapan, dilaksanakan secara sempurna

Ibadah haji harus dilaksanakan sebaik-baiknya,sesempurna mungkin, bukan asal sah. Ibadah haji harus dilaksanakan selengkap mungkin dan seutuh mungkin dari A sampai Z, sehingga dapat kualitas mabrur yang cumlaude. Haji Mabrur adalah haji yang dianggap lulus.

"Namun, kita harus tahu bahwa nilai kelulusan haji itu bisa bertingkat-tingkat. Karena itu, kita harus mengusahakan agar memperoleh predikat Haji mabrur dengan nilai yang sangat baik (mumtaz suma cumlaude)," katanya.

Kesembilan, dilaksanakan dengan niat yang ikhlas

Ibadah haji harus dilaksanakan dengan hati yang ikhlas, dan siap untuk menjual dirinya kepada Allah. Ingat, ibadah haji itu sangat rawan virus riya, ujub (merasa aku lebih baik daripada orang lain) rawan uji kesabaran, dan rawan menggerutu.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini