Pembunuh Bayaran Akui Tembak Mahasiswa Berjilbab di Inggris

Senin , 21 Jun 2021, 11:04 WIB Redaktur : Esthi Maharani
Pembunuhan (Ilustrasi)
Pembunuhan (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, LONDON – Seorang pembunuh bayaran yang dituduh menembak mati seorang Muslimah Lebanon di Inggris telah mengakui perbuatannya. Dia telah mengubah pembelaannya di tengah persidangan yang tengah berlangsung.

 

Terkait

Sang korban Aya Hachem (19 tahun) meninggal karena ditembak dari kendaraan di dekat rumahnya pada Mei 2020 di kota Blackburn, Inggris utara. Menurut pemeriksaan, Aya meninggal akibat tembakan itu. Kala itu, Aya yang merupakan mahasiswi hukum sedang berbelanja makanan.

Pelaku bernama Zamir Raja (33 tahun) adalah salah seorang dari delapan orang yang diadili atas tuduhan pembunuhan. Awalnya, ia sempat menyangkal terlibat dalam insiden ini.

Terlepas dari perubahan permohonan Raja pada 18 Juni, jaksa mengatakan pihaknya akan terus mendorong hukuman. Mereka menyebut penembakan itu adalah puncak dari perselisihan yang telah berlangsung lama antara dua penjual ban di kota itu.

Dilansir Arab News, Senin (21/6), pengadilan mendengar dari pengacara penuntut bahwa Raja diduga disewa oleh salah seorang penjual ban untuk membunuh yang lain. Akan tetapi, akhirnya pelaku malah menembak Aya yang disebut sebagai serangan ceroboh.

“Seperti Yang Mulia tahu, permohonan itu tidak dapat diterima. Kami mengusulkan untuk melanjutkan melawan Zamir Raja,” kata Nicholas Johnson untuk penuntutan kepada Hakim Tuan Hakim Mark Turner.

Turner yang berbicara kepada juri mengatakan dengan penjelasan singkat, posisi penuntut adalah bahwa mereka terus menegaskan Zamir Raja bersalah atas kasus pembunuhan. “Seperti yang Anda dengar, dia mengaku bersalah atas pembunuhan. Namun, karena penuntut ingin melanjutkan tuduhan pembunuhan, persidangan akan dilanjutkan,” ucap dia.

Aya dan keluarganya pindah ke Inggris dari Lebanon saat ia masih kecil. “Putri cantik kami yang berusia 19 tahun Aya telah diambil dari kami dalam keadaan yang paling mengerikan,” kata keluarganya dalam sebuah pernyataan tak lama setelah kematiannya tahun lalu.

“Dia adalah putri yang paling berbakti. Dia biasa menghabiskan waktu bersama keluarganya, terutama saudara-saudaranya Ibrahim, Assil, dan Amir,” tambah mereka. Menurut keluarga, Aya termasuk siswi yang pintar di sekolah menengah di Blackburn. Dia belajar dengan giat agar cita-citanya sebagai pengacara tercapai. Pada saat kematiannya, dia baru saja menyelesaikan ujian tahun kedua dan belajar mengemudi.