Tamiajeng Jalur Favorit Pendakian Gunung Penanggungan

Senin , 21 Jun 2021, 17:54 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Tamiajeng Jalur Favorit Pendakian Gunung Penanggungan. Pengunjung melakukan swafoto di Taman Bunga Refugia di Kampung Organik Brenjong, Penanggungan, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (5/12/2020). Lahan bunga refugia atau kenikir seluas setengah hektare yang ditanam sebagai pengendali hama pertanian organik tersebut kini justru menjadi obyek wisata yang digemari wisatawan dengan tingkat kunjungan rata-rata mencapai 1000 wisatawan per minggu.
Tamiajeng Jalur Favorit Pendakian Gunung Penanggungan. Pengunjung melakukan swafoto di Taman Bunga Refugia di Kampung Organik Brenjong, Penanggungan, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (5/12/2020). Lahan bunga refugia atau kenikir seluas setengah hektare yang ditanam sebagai pengendali hama pertanian organik tersebut kini justru menjadi obyek wisata yang digemari wisatawan dengan tingkat kunjungan rata-rata mencapai 1000 wisatawan per minggu.

IHRAM.CO.ID, MOJOKERTO -- Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Lestari Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur menyatakan kini desa itu menjadi salah satu tujuan favorit para pendaki pemula Gunung Penanggungan. 

 

Terkait

"Kami siagakan petugas dan relawan di Gunung Penanggungan selama 24 jam, khususnya pada akhir pekan. Karena pada saat itu pendaki sangat banyak, dan bisa mencapai ratusan orang," kata pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Lestari Desa Tamiajeng Suedi dalam keterangan pers, Senin (21/6).

Baca Juga

Ia menjelaskan gunung dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut dilengkapi dengan sistem komunikasi pengamanan oleh petugas dan relawan gunung Penanggungan selama 24 jam. Suedi menjelaskan hutan di jalur pendakian sempat rusak akibat penjarahan 1998. Bersama Komunitas Pemuda Trawas (Kompas), dia mengaku sempat menanami kawasan hutan yang gundul akibat penjarahan yang luasnya sekitar 400 hektare tersebut dengan komunitas masyarakat lainnya pada 2003 hingga 2007.

"Saat itu kami kesulitan bibit untuk ditanam di kawasan itu karena yang rusak areanya sangat luas. Dari situlah timbul inisiatif untuk membuka jalur pendakian ke Gunung Penanggungan tanpa dipungut biaya masuk, namun mereka yang ingin mendaki wajib membawa bibit tanaman jenis apa pun. Satu orang membawa satu bibit," katanya.

Jalur pendakian Gunung Penanggungan lewat Desa Tamiajeng yang dulunya sempat gersang kini sudah lebat dan hijau dengan berbagai jenis tanaman Kehutanan seperti mahoni dan tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS), seperti nangka, petai, durian, dan lainnya.

Menurut dia, kesadaran akan pentingnya kelestarian hutan itu kini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain fungsi ekologi dengan kembalinya habitat satwa serta tumbuhan, juga bisa dirasakan manfaat sosial dan ekonomi oleh masyarakat.

Apalagi kawasan yang dulu diperuntukkan sebagai kawasan hutan produksi kini beralih menjadi kawasan lindung. Ia mengatakan kawasan hutan yang masuk di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Trawas, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penanggungan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan itu, kini juga menjadi tumpuan ekonomi bagi sebagian warga lainnya.

Selain buah-buahan yang ditanam di kawasan itu, juga banyak benih tanaman sayuran yang ditabur di dalam kawasan lindung tersebut. Asisten Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (Asper-BKPH) Penanggungan Agung Wibowo mengatakan Perhutani bekerja sama dengan LMDH Sumber Lestari dalam pengelolaan kawasan hutan di wilayah kerjanya.

"Kami sangat terbantu dengan adanya jalur pendakian lewat Desa Tamiajeng ini. Hutannya semakin rimbun, dan ini bisa dijadikan edukasi kepada masyarakat yang datang mendaki gunung Penanggungan bahwa melestarikan hutan itu sangat penting," katanya.

Ia memberikan apresiasi kepada petugas dan relawan Gunung Penanggungan. Meski kawasan tersebut sudah hijau, mereka tetap menanam pohon.

"Terutama di ketinggian 1.500 mdpl dengan tanaman buah-buahan dan beringin," kata Agung.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini