Mungkinkah Chili Punya Presiden Asal Palestina?

Jumat , 25 Jun 2021, 14:11 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Bendera Palestina
Bendera Palestina

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Selama puluhan tahun, pendudukan Israel di tanah Palestina belum berakhir. Pihak Israel selalu melakukan tindakan kejam kepada warga Palestina. Mulai dari pengusiran paksa sampai penyiksaan warga Palestina. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang meninggalkan Palestina demi membangun kehidupan baru, kehidupan yang jauh dari kekerasan dan kebrutalan.

 

Terkait

Salah seorang warga Palestina yang ikut meninggalkan Palestina adalah Daniel Jadue. Keberadaan Jadue sebagai politisi Palestina-Chili sebagian besar dibentuk oleh warisan Palestinanya. Menurut jajak pendapat terbaru, ada kemungkinan Jadue memenangkan pemilihan presiden Chili November mendatang.

Sejak masa kuliahnya, Jadue telah menjadi pembela hak-hak kenegaraan Palestina. Kebangkitan Jadue dalam pandangan politiknya dibentuk dari gagasan keadilan. Dalam kasus ini, muncul dari perjuangan Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan.

Akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, Jadue adalah ketua persatuan umum mahasiswa Palestina. Sebagai aktivis kemerdekaan Palestina, ia juga menjadi koordinator umum Organisasi Pemuda Palestina Amerika Latin dan Karibia.

“Jika Anda orang Palestina tapi Anda tidak tahu di sisi tembok mana Anda berada, maka Anda bukan orang Palestina,” kata Jadue. Dia juga menyoroti pembangunan tembok pemisah Israel. Menurutnya, tindakan tersebut membuktikan Israel adalah agresor karena tindakan kejamnya terhadap Palestina.

Setelah perjalanan emosional ke Palestina pada tahun 2009 lalu, ia menulis sebuah buku yang berjudul Palestina: Chronicle of a Siege. Buku itu menceritakan perpisahan tragis tanah leluhurnya dari dunia. Sekarang menjelang pemilihan presiden pada bulan November, dia akan menjadi salah satu pesaing terbesar.

Siapa Jadue?

Nenek moyang Jadue yang merupakan warga Palestina asli tiba di negara Amerika Selatan pada paruh pertama abad ke-20. Kala itu, pendudukan Israel di Palestina memaksa banyak orang Palestina untuk melarikan diri dan mencari perlindungan di daerah yang aman seperti Chili. Selain negara-negara Timur Tengah, Chili menampung komunitas Palestina terbesar di dunia.

Kebanyakan dari mereka adalah orang Kristen seperti nenek moyang Jadue yang berasal dari Tepi Barat. Nama Arab Jadue adalah Faruk. Komunitas Palestina di Chili terus memiliki hubungan yang mendalam dengan tanah airnya. Budaya sepak bola negara ini adalah bukti dari ikatan tersebut.

Selama eskalasi baru-baru ini di Palestina, Club Deportivo Palestino, tim liga utama yang didirikan oleh imigran Palestina pada tahun 1920, memberikan penghormatan kepada perlawanan dengan mengenakan keffiyeh. Yakni tutup kepala tradisional Palestina sebelum kick-off pada bulan Mei.

Jadue mempelajari teknik dan sosiologi. Dia menunjukkan minat yang besar dalam masalah sosial-politik di awal masa mudanya. Akhirnya, dia berhasil menjadi profesor di Arsitektur dan Sosiologi Perkotaan di Universitas Chili. Dia telah menjalankan sejumlah proyek baik dalam pembangunan perkotaan dan manajemen masyarakat, mengumpulkan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang pengangguran dan kemiskinan.

Setelah beberapa upaya politiknya yang gagal pada tahun 2000-an, ia akhirnya memenangkan pemilihan wali kota Recoleta, sebuah distrik kelas pekerja di ibu kota Santiago pada tahun 2012.