Pengertian Rangkaian Manasik Haji 

Selasa , 06 Jul 2021, 13:55 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Pengertian Rangkaian Manasik Haji. Foto:  ilustrasi Jamaah Haji Nigeria
Pengertian Rangkaian Manasik Haji. Foto: ilustrasi Jamaah Haji Nigeria

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Semua tindakan dan tempat Haji membawa pesan ruhaniah. Saniyasnain Khan mengatakan, jamaah haji melaksanakan haji bukan hanya agar dosa-dosa mereka dihapuskan.

 

Terkait

"Tetapi agar menjadi manusia baik yang belajar untuk peduli kepada orang lain dan untuk mendapatkan anugerah Allah SWT," kata Saniyasnain dalam bukunya 'Ibadah Haji Agar Kita Memahami Secara Tepat'.

Baca Juga

Berikut ini adalah pengertian dari rangkaian manasik haji:

Ka'bah.

Menarik lebih banyak orang dibandingkan bangunan lain di dunia. Lebih dari seperempat penduduk dunia salat menghadap ke Ka'bah lima kali dalam sehari. 

"Siang malam, tahun demi tahun, ibadah tidak pernah terhenti di sana sedetikpun," katanya.

Hal itu kata Saniyasnain itu mengingatkan kita pada tujuan hidup untuk beribadah kepada-Nya kita berputar balik di sekitar-Nya, dekat denganNya, memohon anugerah-Nya dan menaruh seluruh keyakinan kita kepadanya. Nabi Muhammad SAW diberi tahu agar menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Allah dekat dengan mereka dan mengabulkan doa mereka.

Al Quran surat Al Baqarah ayat 186 yang artinya:

"Maka hendaklah mereka memenuhi seruanKu dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Tawaf 

Atau mengelilingi Ka'bah artinya berputar selamanya di sekitar Tuhan kita, seperti planet-planet mengelilingi matahari. Pencipta kita memperhatikan kita sepanjang hidup kita, sehingga kita harus taat dan terus-menerus ingat kepada-Nya; kita harus meninggalkan segala hal yang Dia larang dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang diridha-Nya, serta mengingat-Nya.

"Sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi." (Ali Imran 191).

Sai

Atau berjalan cepat di antara bukit Safa dan bukit Marwah untuk mengenang perjuangan berat istri Nabi Ibrahim AS, Hajar dan kepasrahan dirinya yang penuh kepada Allah. Melakukan seperti apa yang dilakukan hajar 4000 tahun yang lalu menunjukkan kepada orang-orang yang beriman bagaimana mereka harus lari kepada Allah bila perlu. 

Talbiyah.

Atau mengulang-ulang bacaan Labbaik adalah jawaban orang-orang yang beriman terhadap panggilan Allah. Ini merupakan pendahuluan hari kiamat ketika "Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kubur menuju kepada Tuhan mereka." (Yasin ayat 51).

Zamzam.

Mata air yang menyembur atas kehendak Allah, yang menyelamatkan kehidupan hajar dan bayinya, Ismail, menunjukkan bahwa keimanan orang-orang yang beriman akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan mungkin dengan suatu mukjizat. Karena air ini memuaskan dahaga berjuta-juta jamaah haji tahun demi tahun, tanpa pernah habis, menunjukkan kekuasaan tak terhingga jumlah dan cinta kepada makhluk-Nya.

Ramy

Atau melemparkan batu kerikil pada tiang setan pada Mina, menunjukkan bagaimana orang-orang yang beriman harus menghindari godaan. Kapanpun setan dalam diri mereka menggoda untuk berbuat salah, secara mental, mereka akan melemparkan kerikil-kerikil ke arahnya untuk mengusirnya.

Arafah

Di sini Nabi Muhammad menyatakan bahwa orang yang benar-benar mulia adalah yang tidak memihak dan takut kepada Allah, tanpa membanggakan warna kulit atau jabatan bagi para jamaah haji berkumpul di Arafah adalah seperti berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat.

Muzdalifah

Tempat para jamaah haji bermalam sebagian besar di pinggir jalan. Ini mengajarkan pelajaran yang sama seperti di Mina dan Arafah, karena gaya hidup mereka di dalam tenda tenda kecil pasti sangat sederhana. Hal itu mengingatkan mereka terhadap orang tuna wisma dan kaum fakir kirim miskin dan mengisyaratkan kepada mereka agar membantu yang lain.

Kurban hewan di mina hari raya mengenang kesedihan Nabi Ibrahim AS untuk mematuhi perintah Allah dengan mengorbankan Putra terkasihnya. Orang-orang yang beriman, bila diperlukan kamu juga harus siap untuk mengorbankan kekayaan dan harta milik mereka karena Allah. 

Tentang ini Alquran surah Al-Hajj ayat 37 yang artinya:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari  kamu lah yang dapat mencapainya."

"Itu juga mengingatkan orang-orang yang beriman agar peduli kepada kaum fakir miskin, terutama di kampung halaman asal mereka sendiri," katanya.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini