Konsep Wisata Halal Cocok di Masa Pandemi

Selasa , 13 Jul 2021, 19:05 WIB Reporter :Lida Puspaningtyas/ Redaktur : Esthi Maharani
Jamaah berbuka puasa bersama di halaman Masjid Al-Hakim, Padang, Sumatera Barat, Kamis (15/4/2021). Masjid Al-Hakim yang merupakan ikon wisata halal di kota itu menyediakan sebanyak 150 paket buka puasa setiap hari selama bulan Ramadhan.
Jamaah berbuka puasa bersama di halaman Masjid Al-Hakim, Padang, Sumatera Barat, Kamis (15/4/2021). Masjid Al-Hakim yang merupakan ikon wisata halal di kota itu menyediakan sebanyak 150 paket buka puasa setiap hari selama bulan Ramadhan.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Konsep wisata halal dinilai paling cocok dilaksanakan di masa maupun pasca pandemi Covid-19. Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) menyampaikan konsep CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) telah sesuai dengan prinsip berwisata ramah Muslim.

 

Terkait

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf RI, Rizki Handayani mengatakan CHSE telah memberi dampak signifikan pada peningkatan kepercayaan masyarakat untuk berwisata dengan aman dan sehat di masa pandemi. Ini merupakan jaminan mutu standar penerapan protokol kesehatan untuk menjaga keberlangsungan industri pariwisata.

"Jika dikaitkan dengan wisata ramah Muslim maka ini sesuai dengan kaidah Islam, karena penyediaan fasilitas, pelayanan jadi aman, nyaman, juga sehat," katanya  dalam Halal In Travel Global Summit 2021, Selasa (13/7).

Wakil Ketua Umum PPHI, Wisnu Rahtomo menambahkan PPHI sendiri mengembangkan konsep CHSE+ untuk pemenuhan kebutuhan Muslim secara lebih lengkap. Tidak hanya dari sisi protokol kesehatan yang sesuai dengan anjuran dalam gaya hidup halal, tapi juga pemenuhan sarana ibadah, seperti sanitasi, keperluan wudhu, juga tempat shalat.

Wisnu mengatakan konsep ini menjadi nilai tambah pariwisata halal di tengah kondisi pandemi. Secara rinci, konsep dibagi dalam tiga lapis kategori yang diambil dari pengembangan pariwisata halal, yakni need to have, good to have, dan nice to have.

"Misal level sinergi ini kita ingin terapkan CHSE dengan lapis pertama, ada cleanliness maka plusnya itu adalah toilet muslim friendly dan ada sarana ibadah," katanya.

Dari sisi amenitas juga didorong untuk memiliki sarana-sarana untuk pengelolaan air limbah, ramah lingkungan, dan bertanggung jawab. PPHI akan menggelar pilot project CHSE+ ini di wilayah Cianjur, Bandung, dan Bandung Barat.

Ketua Bidang Industri, Bisnis, dan Ekonomi Syariah Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Bukhori Muslim menyampaikan, DSN MUI sebelumnya sudah memiliki fatwa pelaksanaan prinsip wisata halal dan telah menerapkan konsep CHSE. Ini karena Islam telah mengajarkan konsep tersebut dalam keseharian.

"Kalau kita belajar pertama kali fikih, yang bab pertama itu adalah kebersihan, nilai-nilainya sudah ada seperti yang disampaikan pemerintah dalam program CHSE," katanya.

Ia menyampaikan konsep CHSE tersebut telah sesuai dengan nilai dasar syariat Islam. Sehingga penerapan standar kebersihan, kesehatan, dan keselamatan orang lain telah sesuai dalam konsep pedoman wisata halal yang sudah ada.  

Ketua PPHI, Riyanto Sofyan mengatakan ini menjadi salah satu cara untuk memitigasi dampak pandemi terhadap bisnis pariwisata ramah muslim. "PPHI menitikberatkan pada melakukan inisiatif juga inovasi, industri didampingi dengan sesi berbagi, pelatihan, mengarahkan penguatan destinasi, juga kolaborasi," katanya.

Penguatan kesiapan dan ketahanan juga dilakukan industri untuk sambut new normal pariwisata pasca Covid-19. Seperti dengan menyediakan paket-paket wisata baru yang aman dan menarik berbasis alam, kebugaran, dan budaya.

Program peningkatan kapasitas industri juga didukung oleh Kemenparekraf dalam sertifikasi CHSE program Indonesia Care. Ini merupakan manajemen penjaminan mutu para pelaku usaha   dalam memfasilitasi wisatawan. Selain itu juga ada CHSE+ yang menjamin pemenuhan kebutuhan wisatawan muslim.

Wisata ramah Muslim juga menawarkan ragam kegiatan yang unik dan otentik. Seperti melakukan event olahraga, baik berkuda, panahan, dan lainnya. Riyanto menambahkan, ini merupakan stimulus untuk meningkatkan permintaan pariwisata ramah muslim.

"Yang menjadi fokus adalah wisatawan domestik, kita beruntung Indonesia adalah pasar cukup besar dengan nilai pariwisata Rp 290 triliun pada 2019 saat sebelum pandemi," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini