Mengenal Sosok Syekh Junaid al-Batawi (I)

Sabtu , 17 Jul 2021, 04:35 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Kabah di Masjidil Haram
Kabah di Masjidil Haram

Pendapat yang berbeda disampaikan budayawan Ridwan Saidi. Mantan ketua umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)itu mengatakan, pada periode 1894-1895 syekh tersebut telah berusia hampir 90 tahun. Fakta itu merujuk pada catatan orientalis Snouck Hurgronje yang pernah tinggal di Makkah pada 1880-an.

 

Terkait

Lebih lanjut, Hurgronje mengaku sempat berkirim surat kepada Syekh Junaid al-Batawi karena ingin bertemu. Akan tetapi, yang menerima surat itu menolaknya.

Belakangan, penasihat politik pemerintah kolonial Belanda itu merangkum kisahnya dalam buku Mecca in the Latter Part of 19th Century. Disimpulkannya, Syekh Junaid tinggal di Makkah selama 60 tahun sejak 1834.

Ulama berdarah Betawi itu menikah dengan Siti Rohmah. Mereka dikaruniai empat orang anak. Yang laki-laki bernama Asad dan Said. Yang perempuan ada dua orang.

Salah seorang di antaranya kelak menikah dengan murid Syekh Junaid, yakni Syekh Mujitaba al-Batawi. Sementara itu, putrinya yang lain dijodohkan dengan Abdurrahman al-Mishri, yang kendati bergelar Mesir, sesungguhnya orang Indonesia keturunan Arab.

Selama bermukim di Makkah, Syekh Junaid al-Batawi berhasil membangun reputasi yang baik di tengah-tengah masyarakat, utamanya kalangan alim Masjid al-Haram. Menurut Alwi Shahab, tokoh ini mulai hijrah dari tanah kelahirannya ke Makkah kala usianya 25 tahun.

Dia berangkat ke Tanah Suci dengan didampingi beberapa anggota keluarga. Sejak saat itu, dia terus menempa diri dengan belajar ilmu-ilmu agama.