Kisah Corona Di Norwegia: Apa Kabar Indonesia?

Sabtu , 17 Jul 2021, 10:36 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah

Kilas balik tentang penanganan pandemi di Norwegia

 

Terkait

Kami merasakan dua kali lockdown; Maret 2020 dan Maret 2021. Alhamdulillah meski kebebasan kami dibatasi, tapi pemerintah bertanggung jawab sepenuhnya.

Banyak sekali orang yang kena PHK atau dirumahkan sementara akibat ketidakpastian ekonomi. Pemerintah tidak tinggal diam. Melalui departemen tenaga kerja dan sosial, orang-orang seperti ini dapat "gaji" 80% dari total gaji bulanannya, selama mereka di rumah.

Pemerintah yang bekerja keras menjamin kehidupan rakyat. Kami hanya harus diam di rumah, keluar hanya untuk belanja kebutuhan sehari-hari atau cari udara segar, itupun dibatasi hanya 5 orang dari rumah yang sama.

Satu-satunya perbedaan prokes di Norwegia adalah tidak adanya kewajiban bermasker sejak awal pandemi. Masker hanya berupa anjuran, bila tidak mungkin menjaga jarak minimal 1 meter (misal di kendaraan umum, khususnya di kota besar seperti Oslo).

Kewajiban bermasker hanya dikenakan sebulan (Maret  2021), ketika gelombang ketiga menyerang Norwegia. Selebihnya kami bisa menghirup udara segar tanpa penutup wajah.

Anak sekolah sekolah tatap muka penuh, hingga bulan Juni kemarin karena libur panjang musim panas.

Selebihnya kurang lebih sama dengan di tempat lain. Tidak boleh berkumpul dan berkerumun. Berani melanggar? Siap-siap saja masuk penjara atau kena denda. Ada yang kena?

Oh, ada. Ibu perdana menteri Norwegia harus bayar NOK 20.000,- karena dia mengadakan pesta ulang tahun yang "hanya" mengundang 15 orang. Pihak kepolisian menetapkan ibu PM bersalah, terlebih karena dialah yang membuat aturan selama pandemi. Denda dibayar, ibu PM minta maaf kepada seluruh rakyat.

Pemimpin negara Indonesia bagaimana ketika berkali-kali melanggar aturan kerumunan? Pernahkah didenda, atau setidaknya mengaku bersalah/khilaf, dan minta maaf? Pejabat negara lainnya bagaimana?

Hal-hal lain yang membantu Norwegia cepat keluar dari pandemi mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:

1. Pemerintah mengambil tanggung jawab penuh atas keselamatan rakyat. Pemerintah sampai merombak APBN demi bisa menjamin kehidupan rakyat selama pandemi.

2. Informasi yang disampaikan kepada masyarakat hanya datang dari PM, FHI (Institut Kesehatan Masyarakat), dan Kementerian Pendidikan (untuk nasib anak sekolah).

Pemerintah rutin memberi public address secara live setiap Jumat jam 14.00 melalui TV dan radio. 

3. Informasi valid dan terkini mudah diakses melalui website resmi pemerintah. Tidak ada sumber informasi yang berbeda. Tidak pernah aparat pemerintah saling berlomba cari panggung di masa susah ini.

4. Testing, tracking, and treatment betul-betul dijalankan. Kalau ada 1 orang ketahuan positif, maka semua kontak eratnya akan dicari sampai dapat, dan diperintahkan untuk karantina jika positif juga.

Tes PCR di Norwegia gratis dan hasilnya keluar dalam 24 jam. Tes gratis ini hanya untuk penduduk yang berdiam di dalam negeri. Yang barusan datang dari luar negeri ya harus bayar, termasuk bayar hotel karantina yang mahal.

5. Semua perbatasan segera ditutup. Pergerakan manusia betul-betul dipantau, hanya untuk yang betul-betul penting. Orang asing dilarang masuk, apalagi bila datang dari negara bahaya.

6. Buzzer dan hoax tidak ada tempat di sini. Kalaupun ada sebagian masyarakat yang tidak percaya pandemi, mereka tetap patuh pada peraturan apapun yang ditetapkan pemerintah.

7. Pemerintah tidak pernah memberi angin surga sekadar memberi ketenangan palsu. Kalau kondisi buruk, ya dibilang buruk. Kami sempat diminta untuk bersiap ketika pemerintah mengetatkan aturan lockdown di gelombang kedua yang lalu. 

8. Kekompakan pemerintah dan rakyat Norwegia patut diacungi jempol empat. Pemerintah yang tegas, jujur, adil, dan tidak korup, serta masyarakat yang taat hukum, membuat penderitaan pandemi ini dirasakan bersama. Istilah Inggrisnya:

We're facing the same storm, and we're going to ride that storm in the same boat (Kita menghadapi badai yang sama, dan kita akan menghadapi badai itu dengan perahu yang sama.)

Jadi, Indonesia juga bisa. Meski sudah salah langkah di awal, keteteran di tengah, dan cukup babak belur hingga saat ini, rakyat Indonesia bisa bangkit dan melewati pagebluk ini dengan selamat. 

Kalaupun tidak bisa berharap pada pemerintah, kita masih punya Yang Mahakuasa. 

Tetap semangat, taati prokes, jaga kesehatan diri dan keluarga, saling bantu, serta jangan putus berdoa, Teman-teman!