Perempuan Rohingya Terpaksa Menikah untuk Tinggal di India

Ahad , 18 Jul 2021, 08:45 WIB Reporter :Fergi Nadira/ Redaktur : Nur Aini
Para perempuan pengungsi Muslim Rohingya.
Para perempuan pengungsi Muslim Rohingya.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Dilema bagi ratusan pengungsi perempuan muda di India, terpaksa dipulangkan ke Myanmar atau tetap di India dengan syarat menikah usia dini. Selama beberapa abad, India memang telah menerima pengungsi dari seluruh dunia, tetapi, dalam kasus Muslim Rohingya, pemerintah mengambil sikap berbeda.

 

Terkait

Seorang perempuan Rohingya berusia akhir empat puluhan yang tinggal di sebuah pemukiman pengungsi di daerah Kalindi Kunj di Delhi, mengatakan, bahwa beberapa keluarga di kamp tersebut mencoba yang terbaik untuk menemukan pasangan yang cocok untuk putri mereka. "Kami terus mencari pria Muslim India untuk menikahkan putri kami, yang setidaknya akan membuat mereka menjadi warga negara India," kata seorang perempuan yang tidak bersedia disebutkan namanya kepada media Rusia, Sputnik.

Baca Juga

"Ini tidak mudah, bahkan orang miskin di antara Muslim India memandang rendah pengungsi dan tidak ingin menikah kepada mereka," katanya menambahkan.

Perempuan lain, Zohra, mencatat bahwa sebagian besar keluarga pengungsi baik-baik saja bahkan jika putri mereka menikah dengan seseorang yang sudah menikah. Menurut para pejabat, ada tiga kamp darurat di Delhi di mana sekitar 1.100 orang Rohingya tinggal.

Orang-orang Rohingya termasuk dalam komunitas Muslim yang umumnya berada di Negara Bagian Rakhine (Arakan) di Myanmar. Setelah kemerdekaan Myanmar, Undang-Undang Kewarganegaraan Persatuan disahkan, yang mendefinisikan kelompok etnis yang dapat mengklaim hak kewarganegaraan.

Dari berbagai insiden yang terjadi, Rohingya mulai meninggalkan Myanmar pada 2012 sebab mereka mengalami penggusuran, perampasan tanah, dan serangan terhadap desa dan rumah mereka, yang diluncurkan oleh militer Myanmar. Semuanya berawal dari kasus pemerkosaan massal di Myanmar. Beberapa Muslim Rohingya dituduh melakukan pemerkosaan dan pembunuhan beramai-ramai terhadap seorang wanita Buddha di Rakhine. Insiden itu menyebabkan bentrokan besar-besaran antara Muslim Rohingya dan umat Buddha setempat serta protes.

Menyusul kejadian tersebut, pemerintah Myanmar merespons dengan menggiring ribuan Muslim Rohingya ke sebuah kamp yang dikelilingi kawat berduri. Orang-orang yang tinggal di kamp menghadapi masalah seperti kelaparan, perlakuan buruk, masalah kesehatan yang menyebabkan penyebaran penyakit dan bahkan kematian. Rohingya mulai melarikan diri dari kamp dan melarikan diri dari negara.

Dalam beberapa hari, ribuan Muslim Rohingya naik perahu dan melarikan diri dari pantai negara itu tanpa tujuan; pers internasional menyebut mereka 'manusia perahu'. Karena Rohingya berbicara bahasa Bengali, kebanyakan dari mereka menuju Bangladesh dalam jumlah besar. Awalnya, pihak berwenang Bangladesh bersikap lunak tetapi dengan meningkatnya arus masuk orang dari Myanmar, pihak berwenang pada 2013 memilih untuk menghentikan semua bantuan kemanusiaan.