Menelusi Jejak Dakwah KH Muhammad Isa Anshari (I)

Senin , 19 Jul 2021, 17:00 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
 gaya kepemimpinan dan kepakarannya di bidang agama menempatkan sosok KH Muhammad Isa Anshari sebagai pemimpin yang brilian.(Ilustrasi)
gaya kepemimpinan dan kepakarannya di bidang agama menempatkan sosok KH Muhammad Isa Anshari sebagai pemimpin yang brilian.(Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, Pasca-kemerdekaan Indonesia merupakan masa-masa terpenting bagi revitalisasi organisasi Persatuan Islam (Persis) untuk kembali kepada prinsip Alquran dan sunah. Namun, gaya kepemimpinan dan kepakarannya di bidang agama menempatkan sosok KH Muhammad Isa Anshari sebagai pemimpin yang brilian.

 

Terkait

Nama Kiai Isa juga masuk sebagai tim perumus Qanun Asasi Persis yang diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis (1953) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis (1967). Dalam sikap jihadnya, Kiai Isa meng anggap perjuangan Persis sungguh vital dan kompleks, karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat.

Baca Juga

Dalam bidang pembinaan kader Persis, Kiai Isa menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis. Semangatnya dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan Orde Lama di Madiun.

Saat itu, Kiai Isa mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam. Kiai Isa tidak pernah menyerah dalam berdakwah, baik melalui podium ataupun tulisan.

Karena itu, tak heran jika saat ini Kiai Isa dikenal sebagai salah satu tokoh Islam dan politisi Islam yang andal di Indonesia. Dalam memperjuangkan syariat Islam sendiri, Kiai Isa memilih berjuang melalui parlemen.

Perjuangannya tak pernah berhenti meski menjelang ajal. Meski dalam kondisi sakit, Kiai Isa tetap memberikan khutbah Idul Fitri. Satu hari pasca-Idul Fitri, tepatnya 11 Desember 1969, akhirnya Kiai Isa pun dipanggil oleh Allah pada usia 53 tahun

Ketokohannya sebagai ulama intelektual dan aktivis dakwah, membuat Kiai Isa dikaruniai anak yang kiprahnya tidak jauh berbeda dengan sang Ayah. Yakni di dunia dakwah dan pergerakan. Anaknya yaitu Endang Saefuddin Ansori seorang intelektual dan akademisi yang saat itu aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).