KH Arief Hasan Peduli dengan Nasib Petani (II-Habis)

Rabu , 21 Jul 2021, 21:36 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
[ilustrasi] Sekolompok santri di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.
[ilustrasi] Sekolompok santri di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.

IHRAM.CO.ID,  Setelah enam tahun nyantri di Tebuireng, KH Arief Hasan pulang ke kampung halamannya di Beratkulon. Saat itu, usianya sudah menginjak 22 tahun. Umur yang masih tergolong sangat muda. Namun, ia langsung dipercaya untuk memberi pengajian di berbagai majelis. 

 

Terkait

Tugasnya kebanyakan menggantikan posisi ayahnya yang memiliki kegiatan rutin mengaji kitab. Amanah ini berarti pula pengakuan dari bapaknya, dirinya sudah dianggap mampu membaca kitab kuning dengan lancar.

Baca Juga

Seiring berkembangnya waktu, Arief mulai memiliki tempat di hati masyarakat Desa Beratkulon. Ia bahkan mulai dipanggil dengan sebutan kiai meskipun usianya relatif muda.

Pada 1 April 1939 Kiai Arief kemudian mendirikan Pondok Pesantren Roudlatun Nasyi'in. Nama pesantren ini d iambil dari bahasa Arab. Secarah harfiah, raudhah berarti 'taman', sedangkan nasyi'in bermakna 'kaum muda yang tengah berkembang.'

Awalnya, tercatat hanya tujuh orang santri yang mukim di sana. Namun, lama kelamaan jumlah santri yang dibimbing Kiai Arief terus bertambah.

Tidak hanya dari kawasan Mojokerto. Cukup banyak pula yang datang dari luar kota, semisal Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Surabaya, dan bahkan luar Jawa. Selain membangun pesantren, ia pun mendirikan berbagai lembaga edukasi formal yang membuka level pendidikan tingkat dasar hingga menengah atas.