KH Arief Hasan Peduli dengan Nasib Petani (II-Habis)

Rabu , 21 Jul 2021, 21:36 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
[ilustrasi] Sekolompok santri di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.
[ilustrasi] Sekolompok santri di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.

Perjuangan Sang Alim dari Mojokerto

 

Terkait

Daerah Mojokerto, Jawa Timur, telah memunculkan banyak alim ulama. Salah seorang di antaranya adalah KH Arief Hasan. Mubaligh kelahiran 1917 ini merupakan murid dari Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Tidak hanya berkiprah di dunia dakwah, putra pasangan Kiai Hasan dan Nyai Sholihah ini juga aktif dalam perjuangan membela kedaulatan Tanah Air. Ketika Mbah Hasyim menginisiasi Resolusi Jihad, ia juga turut berjuang di garda depan.

Waktu itu, musuh Indonesia ialah ambisi kolonial Belanda yang hendak menjajah kembali Bumi Pertiwi. Padahal, RI telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. 

Dalam menyambut seruan jihad, Kiai Arief Hasan mengorbankan harta, jiwa, dan raga. Rumahnya pernah dijadikan sebagai markas Laskar Hizbullah Utara Sungai.

Suatu kali, pasukan Belanda menyisir keberadaan para laskar pejuang yang kerap melakukan gerakan-gerakan gerilya ke desa-desa. Salah satu desa yang dijadikan target untuk digeledah adalah Beratkulon. Prajurit Belanda pun memasuki rumah-rumah warga, tak terkecuali kediaman Kiai Arief. Beruntung, sang kiai lolos dari penyergapan tersebut.