Kazan, Simbol Toleransi di Rusia

Kamis , 22 Jul 2021, 09:31 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Agung Sasongko
 Wisatawan mengunjungi Masjid Qolsharif, di Kremlin abad ke-16, atau benteng, salah satu situs warisan dunia UNESCO selama Piala Dunia 2018 sepak bola di Kazan, Rusia, Jumat, 29 Juni 2018. (
Wisatawan mengunjungi Masjid Qolsharif, di Kremlin abad ke-16, atau benteng, salah satu situs warisan dunia UNESCO selama Piala Dunia 2018 sepak bola di Kazan, Rusia, Jumat, 29 Juni 2018. (

IHRAM.CO.ID, Secara geografis, Kazan tidak terlalu jauh dari Moskow, ibu kota Rusia. Kazan adalah ibu kota salah satu negara bagian di Rusia, yakni Tatarstan. Kota ini memiliki lanskap yang unik dan menarik. Ia berada di atas bukit dengan pemandangan danau di bawahnya. Persis di pinggir danau, terdapat beberapa monumen besar, seperti Masjid Agung Qul Syarif, sebuah gereja kuno, kremlin (benteng kota), dan makam syuhada.

 

Terkait

M Aji Surya dalam bukunya Geliat Islam di Rusia menulis, masyarakat Kazan mirip dengan Indonesia. Kumandang azan, deretan masjid, dan wanita berjilbab menjadi pemandangan biasa di kota ini. Penghuni kota ini separuhnya Muslim. Mereka mengaku pertama kali mengenal Islam dari seorang utusan Islam asal Baghdad pada abad ke-7 Masehi. Kala itu Kazan masih menjadi bagian dari wilayah Bulgaria. Sejak itu, Islam berkembang cepat di wilayah ini.

Baca Juga

Sama seperti agama-agama lain, Islam sempat mengalami hambatan serius pada masa komunisme Soviet. Hampir semua masjid dialih fungsi menjadi gudang atau gardu jaga. Segala sesuatu yang menyiratkan simbol keagamaan diharamkan.

Setelah komunisme Soviet tumbang, komunitas Muslim di wilayah ini seolah bangkit dari tidur panjang. Mereka kembali membangun tempat ibadah dan institusi keagamaan dengan cepat. Kini, tak kurang dari 1.200 masjid telah kembali berdiri dan mendorong kemajuan masyarakat di berbagai bidang.

Aji Surya yang juga seorang diplomat menuturkan, di kota ini ada pula universitas Islam yang diberi nama Universitas Islam Rusia. Perguruan tinggi ini mirip sekali dengan UIN di Indonesia. Dulu, pada masa komunis, pendidikan Islam di Tatarstan tetap berlangsung. Begitu juga dakwah, tetap berjalan meski hanya di lingkungan keluarga. Itulah sebabnya Islam tidak surut meski selama satu generasi pernah dinyatakan terlarang.