Arab Musto'ribah Hasil Pernikahan Ismail dan Kabilah Jurhum 

Kamis , 29 Jul 2021, 17:08 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Arab Musto'ribah Hasil Pernikahan Ismail dan Kabilah Jurhum. Foto:  Suasa kehidupan suku Quraisy di Makkah, masa lalu. (liustrasi)
Arab Musto'ribah Hasil Pernikahan Ismail dan Kabilah Jurhum. Foto: Suasa kehidupan suku Quraisy di Makkah, masa lalu. (liustrasi)

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Asbab sumber mata air zam-zam memancar karena hasil perjuangan (mujahadahnya) ibunda Ismail Siti Hajar. Siti Hajar lari dari bukit Safa dan Marwah demi mendapatkan air untuk minum putranya.

 

Terkait

"Di sekeliling rumah pertama (Kabah) itu akan kamu dapati tanda-tanda yang nyata yang dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri. Di sana kamu akan mendapati sumur zam-zam; yang telah diceritakan sejak zaman purbakala, bahwa sumur itu yang dikurniakan Allah kepada Hajar ibu Ismail," tulis Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dalam tafsirnya Al-Azhar. 

Baca Juga

Sumber air zam-zam inilah juga yang membuat kabilah-kabilah medekat untuk dapat ikut merasakan air zam-zam. Menurut Buya Hama kabilah yang pertama datang ke Makkah setalah sumber mata air zam-zam memancar adalah Kabilah Jurhum. 

"Itu pulalah yang menyebabkan kabilah-kabilah Jurhum sudi mendiami tempat itu, sehingga Hajar tidak sepi sendirian," katanya.

Dan dari perkawinan Ismail dengan anak perempuan kabilah Jurhum timbul bangsa Arab Musto'ribah (orang Arab pendatang) yang menurunkan Quraisy dan menurunkan Muhammad s.a.w. Di sanapun akan kita dapati tanda yang lain pula, yaitu bukti Shafa dan Marwah tempat Hajar berlari-lari kecemasan sebelum zamzam diberikan Tuhan.

"Hajar lari-lari karena ingin mencari air untuk memberi minum anaknya yang baru lahir," katanya.

Dan banyak lagi tanda-tanda yang lain. Di antaranya lagi yang paling penting ialah : Tempat berdiri lbrahim. Yaitu tempat berdiri Nabi Ibrahim ketika mengerjakan sholat dan ibadat lainnya, menurut syariat yang ditentukan Tuhan untuknya pada zamannya. 

"Dan berita ini diterima turun-temurun oleh bangsa Arab sejak zaman purbakala sehingga telah menjadi mutawatir, mustahil orang akan bersepakat berbuat dusta," katanya.

Menurut Prof Hamka, ada perbedaan penafsiran ahli-ahli tafsir tentang di mana letak yang sebenarnya maqam atau tempat berdiri Ibrahim itu. Kata setengah ahli tafsir maqam lbrahim ialah yang terletak disebelah Ka'bah itu telah menjadi sunnah. 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini