Sikap Seorang Muslim Ketika Menerima Daging dari Non-Muslim

Kamis , 29 Jul 2021, 22:22 WIB Reporter :Umar Mukhtar/ Redaktur : Agung Sasongko
Daging sapi (ilustrasi)
Daging sapi (ilustrasi)

Dosen Pascasarjana Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ustadz Dr Hari Susanto MA menjelaskan, ketika menerima daging dari kalangan non-Muslim, maka harus dilihat siapa pemberinya. Bila yang memberikan adalah tetangga yang telah dikenal baik selama ini dan memahami makanan yang dikonsumsi umat Islam, sehingga tidak ada lagi sesuatu yang diragukan, maka tidak masalah mengonsumsi daging pemberiannya.

 

Terkait

"Kecuali jika orang asing, tidak kenal, atau tetangga baru. Maka harus bertanya lagi dengan cara yang baik tentunya. Untuk mengetahui ini daging apa, belinya di mana, atau dia menyembelih sendiri atau tidak," jelasnya kepada Republika.co.id, Kamis (29/7).

Karena itu, hal pertama yang harus dilakukan ketika menerima daging dari orang yang belum dikenal baik, yaitu tabayun dengan bertanya. Setiap Muslim harus tabayun terhadap segala hal, baik itu makanan, barang atau informasi. Seorang Muslim juga tidak boleh melakukan sesuatu yang diragukan kehalalan dan kebenarannya. Inilah juga mengapa Muslim harus beramal dengan ilmu.

Ustadz Hari menjelaskan, dalam ushul fiqih, ilmu adalah yakin. Ilmu inilah yang membuat seorang Muslim yakin. Cara untuk mencapai yakin yaitu dengan mengamati, melihat sendiri atau bertanya langsung. Ini sebagaimana kaidah fiqih, yaitu harus mengetahui sesuatu sebelum mengatakannya atau melakukannya.