Maqam Ibrahim Sebagai Tanda Keagungan Ka'bah 

Selasa , 03 Aug 2021, 13:07 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Maqam Ibrahim Sebagai Tanda Keagungan Ka'bah. Foto:  Maqam Ibrahim
Maqam Ibrahim Sebagai Tanda Keagungan Ka'bah. Foto: Maqam Ibrahim

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Ka'bah merupakan rumah Ibadah pertama dibangun. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 96. 

 

Terkait

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah yang di Bakkah.yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."

Baca Juga

Nabi Ibrahim, dia telah meninggikan bangunan Ka'bah. Bukti Nabi Ibrahim meninggikan Ka'bah ada tanda-tanda atau bekas pijakannya yang tanda ini dijelaskan di dalam ayat 97 yang artinya:

"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji menujuBait Allah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) yang sanggupmengadakan perjalanan ke sana; barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam."

Prof Quraish Shihab menafsirkan ayat 97 itu adalah di sana (Ka'bah) terdapat tanda-tada yang nyata, di antaranya maqam Ibrahim, antara lain bekas telapak kaki beliau. Di samping itu barang siapa memasukinya Baitullah itu menjadi amanlah dia, tidak ada yang mengganggunya.

"Ini sebagai bukti kekuasaan Allah menguasai jiwa manusia dan sebagai bukti pula keagungan tempat itu," kata Prof Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah.

Maka karena itu, kata Prof Quraish Shihab, berkunjung ke sana untuk mengerjakan haji menuju Bait Allah adalah kewajiban manusia seluruhnya bukan hanya yang bertempat dan tinggal di sana atau khusus keturunan Ibrahim dan Isma‘il as. Itu adalah kewajiban terhadap Allah, yaitu bagi siapa yang telah akil baligh/mukalaf dan yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana dari segi kemampuan fisik dan persiapan bekal untuk dirinya dan keluarga yang ditinggal dan selama perjalanan itu aman bagi dirinya. 

"Maka mereka yang melaksanakannya dengan tulus lagi sempurna adalah orang-orang yang beriman dan wajar mendapat ganjaran surga," katanya.

Sedangkan barang siapa tidak melaksanakan ibadah haji padahal dia mampu atau mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam baik dari yang taat maupun yang ingkar.

 

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini