Sabtu 07 Aug 2021 00:45 WIB

RI Ajak Malaysia dan Thailand Bersinergi Tangani Pandemi

Ketiga negara sepakat memastikan semua target dalam kerja sama IMT-GT dapat tercapai.

Rep: Novita Intan/ Red: Satria K Yudha
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Foto: istimewa
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA-- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perlunya memperkuat solidaritas dan kerja sama subregional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT). Menurut Airlangga, kerja sama ketiga negara perlu diperkuat, khusunya untuk menanggulangi krisis ekonomi dan kesehatan akibat pandemi.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga saat memimpin delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri IMT-GT ke-27 yang digelar secara virtual pada Jumat (6/8). Pertemuan tersebut dihadiri Perdana Menteri (Ekonomi) Malaysia YB Dato' Sri Mustapa Bin Mohamed, Menteri Keuangan Thailand Arkhom Termpittayapaisith, Wakil Presiden Asian Development Bank (ADB) Ahmed M Saeed, dan Sekretaris Jenderal Sekretariat ASEAN Dato’ Lim Jock Hoi.

Ia mengatakan, kerja sama IMT-GT dibentuk untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi, menghilangkan kesenjangan, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di tiga negara. Selama 28 tahun berkiprah, kerja sama ini tetap bertahan dari berbagai guncangan ekonomi yang melanda dunia. 

"Jadi, dalam situasi krisis pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita perlu meningkatkan solidaritas dan kerja sama untuk membantu rakyat kita keluar dari krisis kesehatan dan ekonomi,” kata Airlangga dalam keterangannya, Jumat (6/8). 

Airlangga mengatakan, ia beserta para menteri Malaysia dan Thailand telah menyepakati untuk memastikan semua target dalam kerja sama IMT-GT dapat tercapai dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia pun mendorong pemanfaatan platform Kerja sama IMT-GT untuk mendorong proyek yang konkret bagi percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan. 

"Dengan tetap memperhatikan permasalahan yang terjadi saat ini seperti kesehatan, revolusi industri, ketahanan pangan dan energi, kualitas sumber daya manusia, dan sumber daya berkelanjutan. Kta juga harus mempercepat transformasi dan adaptasi teknologi yang memainkan peran kunci untuk masa depan kerja sama IMT-GT,” tutur

 

Ia juga mendukung adopsi prinsip green and blue economy serta ekonomi sirkular dalam kerangka kerja pemerintah lima tahun ke depan. Berkaitan dengan hal ini, kata dia, Indonesia juga tengah mengembangkan kebijakan sektor industri dengan konsep ekonomi sirkular melalui Standarisasi Industri Hijau.

Melalui ekonomi sirkular, Indonesia diproyeksikan bisa menciptakan 4,4 juta pekerjaan baru dan menambah 42,2 miliar dolar AS dari PDB pada 2030. “Saya yakin, kondisi serupa juga dapat diterapkan di negara-negara lainnya,” lanjutnya.

Meskipun tengah dilanda gelombang kedua pandemi, Indonesia beserta Malaysia dan Thailand tetap berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai program dan kegiatan dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2017-2021, serta menyusun kerangka kerja lima tahun berikutnya dalam Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2022-2026.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement