Buah Perjanjian Abraham, Menlu Israel Kunjungi Maroko

Kamis , 12 Aug 2021, 14:26 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Kunjungan Menlu Israel, Yair Lapid, ke Maroko adalah pertama kali dalam sejarah usai Perjanjian Abraham
Kunjungan Menlu Israel, Yair Lapid, ke Maroko adalah pertama kali dalam sejarah usai Perjanjian Abraham

IHRAM.CO.ID, RABAT— Menteri Luar Negeri (Menlu) Israel, Yair lapid dilaporkan akan mengunjungi Maroko untuk mempererat hubungan antara kedua negara pada Rabu (11/8). Kunjungan bersejarah bagi kedua negara usai menandatangani kesepakatan untuk menormalkan hubungan dalam Perjanjian Abraham.

 

Terkait

Dilansir dari Alarabiya Selasa (10/8), Yair Lapid akan memimpin delegasi anggota parlemen dan pejabat yang akan bertemu dengan pejabat Maroko. Kedatangannya juga sekaligus akan meresmikan Kantor Penghubung Israel di ibu kota Rabat, kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga

Kunjungan tersebut akan menjadi yang pertama oleh seorang menteri Israel sejak penandatanganan perjanjian Abraham. Seperti diketahui, perjanjian ini adalah normalisasi yang ditengahi Amerika Serikat antara Israel dan empat negara Arab, yakni Maroko, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan.

Ini adalah kunjungan pertama Yair ke Maroko oleh seorang menteri Israel sejak tahun 2003 dan Lapid dijadwalkan bertemu dengan mitranya dari Maroko, Nasser Bourita.

“Kunjungan bersejarah ini merupakan kelanjutan dari persahabatan lama dan akar yang dalam serta tradisi bahwa komunitas Yahudi di Maroko, dan komunitas besar Israel yang berasal dari Maroko, memiliki hubungan,” kata Lapid sebelum perjalanan.

Israel dan Maroko memiliki hubungan diplomatik tingkat rendah pada 1990-an, tetapi Maroko memutuskannya setelah pemberontakan Palestina kedua meletus pada 2000.

Kedua negara mempertahankan hubungan informal, dengan ribuan orang Israel bepergian ke Maroko setiap tahun. Banyak orang Yahudi Israel memiliki garis keturunan yang berasal dari Maroko, yang masih menjadi rumah bagi komunitas kecil yang terdiri dari beberapa ribu orang Yahudi.

Sebagai bagian dari kesepakatan untuk membangun hubungan formal dengan Israel, Amerika Serikat setuju untuk mengakui klaim Maroko atas wilayah Sahara Barat yang telah lama disengketakan, meskipun pemerintahan Biden mengatakan akan meninjau keputusan itu. Pencaplokan Sahara Barat oleh Maroko pada 1975 tidak diakui PBB.    

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini