Ahad 15 Aug 2021 21:36 WIB

Keuangan Syariah Sejalan dengan Tujuan Kemerdekaan

Keuangan syariah hadir untuk melindungi tumpah darah dan mensejahterakan bangsa.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Fuji Pratiwi
Perbankan syariah (ilustrasi). Kehadiran keuangan syariah dinilai sesuai dengan tujuan kemerdekaan.
Foto: Republka
Perbankan syariah (ilustrasi). Kehadiran keuangan syariah dinilai sesuai dengan tujuan kemerdekaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cendekiawan muslim Tuan Guru Bajang M Zainul Majdi, yang akrab dipanggil TGB, menyerukan penguatan literasi keuangan syariah untuk mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional.

Menurutnya, industri keuangan Syariah merupakan instrumen strategis yang menopang perekonomian bertahan dari krisis. Hal ini juga sejalan dengan tujuan kemerdekaan Republik Indonesia yakni untuk melindungi tumpah darah dan mensejahterakan bangsa.

Baca Juga

"Bank syariah terbukti menjadi instrumen penting untuk menyejahterakan di masa krisis karena mengusung ekonomi berkeadilan, kesetaraan, dan universalitas," kata TGB dalam keterangannya, Ahad (15/8).

Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 2008—2013 dan 2013—2018 itu melanjutkan, saat ini masih banyak mispersepsi di tengah masyarakat terhadap perbankan syariah. Karena itu, dibutuhkan upaya kuat mendekatkan perbankan syariah kepada masyarakat melalui berbagai program literasi.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Mei 2021 menyebutkan, aset perbankan syariah mencapai Rp 613,30 triliun atau tumbuh 15,54 persen secara tahunan. Pembiayaan bank syariah juga tumbuh 7,32 persen secara tahunan menjadi Rp 401,33 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 17,52 persen menjadi Rp 492,49 triliun.

Kata TGB, perbankan syariah juga mendukung upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) misalnya, mendapatkan dana PEN senilai Rp 3 triliun dengan target penyaluran pembiayaan Rp 4,5 triliun atau leverage 1,5 kali.

Seiring dengan komitmen yang kuat dari negara untuk memberi peluang yang lebih luas bagi pengembangan keuangan syariah, ia yakin Indonesia dapat tumbuh ke arah yang jauh lebih baik.

Sementara itu, Ketua Komite Pemuda Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Arief Rosyid Hasan mengemukakan, generasi muda juga perlu aktif berperan dalam literasi ekonomi dan keuangan syariah sebagai energi baru bagi Indonesia.

"Sistem ini hadir bukan untuk menggantikan sistem keuangan ekonomi nasional, tetapi untuk melengkapinya agar ekonomi Indonesia dapat melesat," kata Arief.

Sehingga, komitmen pemerintah dalam mendorong sistem ekonomi dan keuangan syariah yang sangat luar biasa perlu didukung oleh generasi muda sebagai penerus cita-cita pendiri bangsa.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement