Selasa 31 Aug 2021 02:52 WIB

Warga Kampung Muka Tukar Sampah dengan Uang

Ibu-ibu binaan Koperasi Konsumen Kampung Muka Mandiri berkeliling mencari sampah.

Warga membawa karung berisi sampah untuk ditimbang di Bank Sampah
Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warga membawa karung berisi sampah untuk ditimbang di Bank Sampah

REPUBLIKA.CO.ID, Warga Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara menukar setiap satu kilogram sampah dapur atau limbah organik rumah tangga dengan uang Rp 3.000 dari Koperasi Konsumen Kampung Muka Mandiri. Salah satu warga Kampung Muka, Nur Hayati mengaku senang karena selain mengurangi sampah, dia mendapat penghasilan tambahan.

Ia menilai kegiatan itu bermanfaat karena membantu mengurangi sampah dapur atau limbah organik dan penghasilannya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada masa pandemi. Menurut Nur, dirinya dapat mengumpulkan sampah organik setiap bulan rata-rata lebih dari 30 kilogram.

"Rata-rata dapat uangnya biasanya Rp 80 ribu, pernah Rp 100 ribu. Pernah lebih, tergantung banyak atau tidak sampahnya," tutur Nur, beberapa waktu lalu.

Sampah organik itu dikumpulkan ibu-ibu binaan Koperasi Konsumen Kampung Muka Mandiri secara berkeliling dari rumah ke rumah warga. Setelah terkumpul, mereka lalu membawanya ke penampungan sementara untuk kemudian diolah dalam mesin reaktor untuk dijadikan pupuk cair yang bernilai jual lagi.

Tiap 10 kilogram sampah ditambah 10 liter air beras yang diolah dalam mesin reaktor, akan menghasilkan pupuk cair sebanyak 20 liter. Pupuk cair itu biasanya diminati masyarakat yang ada di kawasan Pademangan. Tiap liternya biasa dibanderol Rp 15 ribu.

Ketua Koperasi Konsumen Kampung Muka Mandiri, Komarudin mengatakan tujuan diadakan pengolahan pupuk cair itu ada dua, yaitu mengurangi sampah organik di lingkungan serta memberikan penghasilan tambahan kepada warga Kampung Muka.

"Jadi, dengan adanya reaktor seperti ini, kita bisa memberdayakan warga juga," kata Komarudin.

Ia mengatakan setiap ibu-ibu binaan koperasi berkeliling, mereka berhasil mengumpulkan sampah dapur rata-rata satu kilogram yang dapat ditukar uang Rp 3.000. Ibu-ibu binaan yang mengumpulkan sampah itu juga mendapatkan upah yang dihitung dari waktu satu bulan.

"Kami hitung pendapatannya mereka itu. Jadi, setiap hari itu yang mengumpulkan sampah organik dicatat, setelah dicatat mereka akan mendapatkan upah. Itu buat tambahan kebutuhan warga sendiri, koperasi yang mengelola. Nanti (pupuk cair hasil olahan sampah dapur warga) kami jual ke anggota kami, jadi selama ini pemasaran cuma di wilayah kami saja," kata Komarudin.

Dikeruk

Sementara itu, petugas Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan mengeruk Kali Krukut segmen Jalan Kemang Selatan 12, Cilandak untuk membersihkan endapan sedimen lumpur dan sampah. Hal ini agar Kali Krukut berfungsi maksimal dalam menampung debit air dan melancarkan saluran air.

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan Mustajab mengatakan pengerukan itu juga bertujuan untuk menangkap lumpur sehingga tidak mengalir ke hilir kali. "Jadi lumpur dan sampah tidak mengalir ke laut," kata Mustajab.

Mustajab mengatakan banyaknya bangunan yang berdiri di sekitar kali membuat kondisi kali menjadi terganggu karena saluran air menjadi tertutup. Petugas SDA menurunkan dua unit alat berat guna membersihkan kali dari endapan sedimen lumpur dan material lainnya.

Mustajab menuturkan pengerukan ini baru dimulai pekan ini dan ditargetkan selesai dalam 30 hari ke depan. Dia menambahkan, selain mengeruk kali Krukut, pihaknya juga tengah mengeruk kali lainnya yang ada di Jakarta Selatan untuk melancarkan air dan mencegah banjir bila curah hujan tinggi.

Menurut dia, masyarakat mesti mendukung langkah ini dengan tidak membuang sampah sembarangan sehingga mencegah penumpukan sampah dan menyumbat saluran air.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement