Rabu 01 Sep 2021 05:33 WIB

Islamic Bookfair Jadi Puncak Literasi Islami

IBF dinilai menjadi puncak literasi dan tonggak peradaban literasi Islam

Islamic Book Fair (IBF)
Foto: Republika/Prayogi
Islamic Book Fair (IBF)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- CEO MarkPlus Islamic dan Deputy Chairman MarkPlus, Inc, Taufik menyampaikan literasi Islami adalah hal penting yang harus ditingkatkan sebagai upaya memajukan Indonesia dalam Global Islamic Economy.

Ia menilai sejumlah acara literasi Islam perlu lebih banyak exposure. Salah satu yang menurutnya berkembang luar biasa pada Islamic Bookfair yang lebih meriah dibanding pameran buku pada umumnya. Hal ini menunjukkan adanya tren ketertarikan masyarakat terhadap buku-buku Islam.

IBF berhasil mengumpulkan sejumlah 140 ribu peserta dari seluruh Indonesia pada 2020 dan 343 stan. Tahun ini tidak dilaksanakan karena Covid-19. Ajang ini menjadi pameran yang ditunggu-tunggu oleh pelajar dan santri baik dari Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten.

"IBF dinilai menjadi puncak literasi dan tonggak peradaban literasi Islam," katanya dalam Muharram Marketing Festival 2021 (30/8).

CEO Mizan Publika, Sari Meutia menyampaikan strategi pemasaran islami memang jadi lini yang kini ditekuni perusahaannya. Mizan Publika fokus ke digital marketing melalui Mizan Digital Headquarter yang menangani program digital marketing.

"Marketing tentu saja lebih banyak ke online, meski setelah PPKM kita berharap toko bisa buka kembali, juga pameran-pameran juga bisa aktif kembali," katanya.

Mizan saat ini mengembangkan Mizan Applications Publisher (MAP) dan Rakata.id. Melalui MAP Mizan Group mengembangkan aplikasi pendukung buku-buku cetak yang menghadirkan berbagai fitur seperti Virtual Reality Halo Balita, Huruf Hijaiyah, dan fitur lainnya.

Wakil Bendahara Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang Muhammadiyah, Andy Dwi Bayu Bawono menyatakan pentingnya penerapan diversifikasi dan klasterisasi untuk mendukung instrumen kemajuan institusi di bidang edukasi. PTMA sendiri membuat klasterisasi, dimulai dari akreditasi hingga masalah penelitian pengabdian.

"Ini kita pisahkan dan yang sudah unggul dan mandiri akan membantu kampus lain, yang menghasilkan semacam kampus binaan," katanya.

PTMA juga memiliki Cyber Muhammadiyah yang diinternalisasi di Muhammadiyah Malaysia, dan sekolah Islam terpadu di Australia. Selain itu juga PTMA mengelola sekolah di Mesir yang sudah dikelola sejak lama dan merupakan bentuk diversifikasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement