Ahad 05 Sep 2021 09:05 WIB

Brasil Setop Ekspor Daging ke CHina Usai Kasus Sapi Gila

China dan Hong Kong membeli lebih dari setengah ekspor daging sapi Brasil

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini
Ilustrasi sapi. Brasil sebagai pengekspor daging sapi terbesar dunia telah menangguhkan pengiriman ke China.
Ilustrasi sapi. Brasil sebagai pengekspor daging sapi terbesar dunia telah menangguhkan pengiriman ke China.

REPUBLIKA.CO.ID, SAO PAULO -- Brasil sebagai pengekspor daging sapi terbesar dunia telah menangguhkan pengiriman ke China. Langkah itu usai Kementerian Pertanian Brasil mengkonfirmasi dua kasus penyakit sapi gila yang tidak biasa di dua pabrik daging domestik yang terpisah.

Penangguhan itu merupakan bagian dari pakta kesehatan hewan yang disepakati antara China dan Brasil. Kesepakatan dirancang untuk memberi waktu bagi Beijing menangani masalah tersebut dengan segera. Menurut Kementerian Pertanian, Beijing akan memutuskan kapan mulai mengimpor lagi.

Baca Juga

Pemerintah Brasil berharap penangguhan itu segera dicabut. Sektor agribisnis yang kuat di Brasil adalah salah satu pendorong utama ekonominya yang telah lama tertinggal. China adalah mitra dagang utama Brasil, dan membeli sejumlah besar komoditasnya.

Penangguhan tersebut merupakan pukulan besar bagi petani Brasil, sebab China dan Hong Kong membeli lebih dari setengah ekspor daging sapi negara ini. Kasus-kasus itu diidentifikasi di pabrik daging di negara bagian Mato Grosso dan Minas Gerais. Laporan terbaru adalah kasus keempat dan kelima dari penyakit sapi gila yang telah terdeteksi di Brasil dalam 23 tahun.

Menurut Kementerian Pertanian Brasil, penyakit sapi gila ini berkembang secara spontan dan tidak terkait dengan makanan yang terkontaminasi. Brasil tidak pernah memiliki kasus penyakit sapi gila biasa sebelumnya.

Kedua kasus itu dikonfirmasi pada Jumat (3/9) setelah sampel dikirim ke laboratorium Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) di Alberta, Kanada. OIE kemudian diberitahu tentang dua kasus tersebut, sesuai dengan aturan internasional. Kementerian Pertanian mengatakan tidak ada risiko terhadap kesehatan hewan atau manusia. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement