KH Idham Chalid, Guru Politik Warga Nahdliyin (II)

Senin , 13 Sep 2021, 13:42 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayat jenazah KH Idham Chalid di kediaman almarhum
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayat jenazah KH Idham Chalid di kediaman almarhum

IHRAM.CO.ID, Pada 1945, KH Idham Cholid kembali ke kampung halamannya di Kalimantan Selatan. Tak lama kemudian, dirinya diminta untuk memimpin bekas sekolahnya dahulu, yakni Madrasah Rasyidiyyah. Pasalnya, sekolah tersebut telah mengalami kekosongan pemimpin sehingga rentan dalam waktu hampir setahun.

 

Terkait

Dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya selama merantau di tanah Jawa, Pak Idham mengembangkan sekolah tersebut dan mengubah namanya menjadi sekolah Normal Islam Amuntai. Normal sendiri diambil dari bahasa Belanda, Noormaal, yang berarti sekolah lanjutan.

Baca Juga

Di sekolah itu, dia menambahkan mata pelajaran ilmu eksakta dan pengetahuan umum. Dia pun tetap mempertahankan pengajaran ilmu-ilmu agama beserta ilmu penunjangnya.Perbandingannya adalah 60 persen pelajaran agama, dan 40 persen pelajaran umum.

Di kampung halamannya, Pak Idham juga membangun jaringan pesantren yang bernama Ittihad Ma'ahid Islamiyyah (IMI). Namanya pun semakin dikenal luas. Namun, dia merasa per juangannya di jalur kultural tersebut belum cukup. Pak Idham masih ingin berjuang demi bangsa dan Tanah Airnya.