KH Idham Chalid, Guru Politik Warga Nahdliyin (II)

Senin , 13 Sep 2021, 13:42 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayat jenazah KH Idham Chalid di kediaman almarhum
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melayat jenazah KH Idham Chalid di kediaman almarhum

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Pak Idham mulai banyak dikenal oleh pengurus NU di tingkat cabang.

 

Terkait

Pada Pemilu 1955, Pak Idham aktif ber kampanye untuk Partai NU. Sebagai hasilnya, ia pun ditunjuk sebagai Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II pada 1956 sampai 1957.

Pada Muktamar NU ke-21 yang digelar di Medan pada 1956, Pak Idham juga berhasil menduduki puncak kepemimpinan organisasi NU dengan menjadi Ketua Umum PBNU. Kemudian, pada kabinet berikutnya, ia kembali dipilih sebagai Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Djuanda pada 1957 sampai 1959.

Meskipun berasal dari kalangan pesantren, Pak Idham mampu menduduki berbagai jabatan penting di pemerintahan. Sampai 1991, Pak Idham masih duduk sebagai salah seorang Ketu Tim Penasihat Presiden tentang Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (TP-7). 

Setelah tidak banyak aktif di dunia politik, pehatian Pak Idham lebih ditujukan pada perkembangan keagamaan dengan berceramah di berbagai tem pat.