Senin 13 Sep 2021 16:27 WIB

PBB Cari Dana untuk Bantuan Kemanusiaan Afghanistan

PBB berupaya mencari 600 juta dolar AS untuk Afghanistan

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini
Logo PBB (ilustrasi)
Foto: VOA
Logo PBB (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan konferensi bantuan di Jenewa, Swiss, pada Senin (13/9). Pertemuan itu dalam upaya untuk mengumpulkan lebih dari 600 juta dolar AS untuk Afghanistan.

Konferensi Jenewa akan dimulai pada Senin sore dan akan dihadiri oleh para pejabat tinggi PBB. Para pejabat yang akan hadir termasuk Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, kepala Komite Internasional Palang Merah Peter Maurer, serta puluhan perwakilan pemerintah termasuk Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.

Baca Juga

Sekitar sepertiga dari 606 juta dolar AS yang dicari akan digunakan oleh Program Pangan Dunia PBB. Lembaga itu menemukan bahwa 93 persen dari 1.600 warga Afghanistan yang disurvei pada Agustus-September tidak mengonsumsi makanan yang cukup. Sebagian besar mereka tidak bisa mendapatkan akses ke uang tunai untuk membayarnya.

"Sekarang berpacu dengan waktu dan bola salju untuk memberikan bantuan penyelamatan jiwa kepada orang-orang Afghanistan yang paling membutuhkannya," kata wakil direktur regional WFP Anthea Webb.

"Kami benar-benar memohon dan meminjam untuk menghindari stok makanan habis," ujar Webb.

Bahkan sebelum perebutan Kabul oleh Taliban bulan lalu, setengah dari populasi atau 18 juta orang  bergantung pada bantuan. Pejabat PBB dan lembaga bantuan menyatakan, angka itu tampaknya akan meningkat karena kekeringan dan kekurangan uang tunai dan makanan.

Pemberhentian aliran dana miliaran dolar dalam sumbangan asing menyusul runtuhnya pemerintah Afghanistan yang didukung Barat. Terlebih lagi, Taliban telah menambah lebih banyak tekanan pada program PBB.

Guterres mengatakan organisasinya sedang berjuang secara finansial. "Pada saat ini PBB bahkan tidak mampu membayar gajinya kepada pekerjanya sendiri," katanya kepada wartawan pada Jumat (10/9). 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement