Lima Orang Afghanistan yang Berpengaruh di Timur Tengah

Kamis , 16 Sep 2021, 13:24 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
jalaluddin rumi
jalaluddin rumi

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Wilayah Afghanistan telah lama menjadi persimpangan peradaban yang menghubungkan budaya di Asia Tengah, Asia Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Istilah Afghanistan secara tradisional mengacu pada etnis Pashtun tapi negara modern Afghanistan mencakup wilayah yang secara tradisional menggunakan dialek Persia yang dikenal sebagai Tajik dan bahasa Turki, seperti Uzbek.

 

Terkait

Secara historis, wilayah ini juga merupakan rumah bagi komunitas kecil Arab yang tiba sebagai tentara, administrator, pedagang, dan misionaris pada abad-abad setelah kelahiran Islam. Keberadaan mereka menyoroti posisi integral Afghanistan di dunia Islam abad pertengahan. Berikut lima orang Afghanistan yang paling berpengaruh di Timur Tengah, seperti dilansir Middle East Eye, Kamis (16/9):

1. Rumi

Salah satu penyair Persia terbesar yang masih terkenal sampai sekarang adalah Jalal al-Din Muhammad Balkhi yang dikenal sebagai Rumi. Dia lahir pada September 1207 di Provinsi Balkh, Afghanistan. Rumi adalah ahli hukum Islam dan sufi dengan banyak menghasilkan puisi yang ditujukan untuk memahami sifat Tuhan.

Rumi meninggalkan Balkh bersama keluarganya di usia muda untuk melarikan diri dari serangan Mongol ke Asia Tengah. Seiring bertambahnya usia, Rumi belajar di sekolah sunni Hanafi dan kemudian pindah ke Konya, Turki di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Rum di mana ia bekerja sebagai guru.

Puisi Rumi mengeksplorasi tema yang beragam dan terkadang dimaksudkan sebagai instruksi spiritual dan di lain waktu sebagai hiburan. Karya-karyanya memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan sastra Turki, Persia, dan Asia Selatan. Rumi meninggal di Konya pada bulan Desember 1273 dalam usia 66 tahun dan pemakamannya dihadiri ribuan orang termasuk penganut agama lain.

2. Imam Abu Hanifah

Abu Hanifa Numan bin Sabit bin Zuta lahir di Irak pada tahun 689M dari ayah Persia yang berasal dari Kabul. Dia menjadi salah seorang ahli hukum dan teolog Muslim paling berpengaruh dalam sejarah yang paling dikenal karena mendirikan sekolah sunni Hanafi. Sejak muda, Abu Hanifah sudah belajar soal agama Islam.

Metode hukumnya ditentukan dengan mengutamakan pembacaan Alquran secara langsung diikuti hadits Nabi Muhammad, perilaku para sahabat Nabi, penggunaan analogi, konsensus para alim, kebiasaan, dan kepraktisan.

Abu Hanifah hidup pada masa ketika orang-orang yang mengenal Nabi Muhammad telah meninggal. Ini dikombinasikan dengan kebutuhan Kekaisaran Islam yang baru lahir akan struktur hukum yang koheren dan kokoh menciptakan kondisi bagi tradisi Islam ke dalam hukum yang tepat.

Oleh karena itu, teolog dan murid-muridnya bekerja untuk menerapkan prinsip-prinsip Islam pada masalah-masalah hukum yang muncul di masyarakat. Abu Hanifah meninggal pada usia 70 tahun saat berada di bawah tekanan dari khalifah Abbasiyah, al-Mansur untuk menerima posisi hakim ketua.

3. Shah Abbas I

Shah Abbas I lahir pada Januari 1571 di Herat, tempat yang sekarang disebut Afganistan. Dia adalah raja kelima Dinasti Safawi dan dianggap sebagai salah satu penguasa terbesar dinasti. Dia mendapatkan julukan Abbas Agung.

Di bawah pemerintahan Shah Abbas I, ia mampu menciptakan kasta tentara setia yang mirip dengan Janissari Ottoman yang terdiri dari orang-orang Kristen yang ditaklukkan, seperti Sirkasia, Georgia, dan Armenia. Salah satu pencapaian terbesar Abbas adalah dalam bidang ekonomi dengan memindahkan ibu kotanya ke Isfahan pada 1597-98.

Selama masa pemerintahannya, ada fokus berat pada arsitektur, perdagangan, dan seni. Sastra dan seniman berkembang di bawah pemerintahannya yang membuka jalan bagi miniaturis terkenal termasuk Aqa Riza dan Mir 'Imad.

Abbas juga terkenal karena toleransi relatifnya terhadap agama lain sehingga memungkinkan gereja dibangun untuk komunitas Kristen minoritas. Shah meninggal pada tahun 1629, meninggalkan warisan yang sulit untuk dijalani oleh ahli warisnya.