Menghayati Hakikat dan Tujuan Ibadah Haji.

Rabu , 22 Sep 2021, 05:37 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Seorang pekerja membersihkan jalan menjelang pelaksanaan ibadah haji tahunan di dekat tenda kemah di Mina,Selasa (13/7). Untuk 2 tahun berturut-turut pelaksanaan ibadah haji di batasi karena pandemi covid-19.
Seorang pekerja membersihkan jalan menjelang pelaksanaan ibadah haji tahunan di dekat tenda kemah di Mina,Selasa (13/7). Untuk 2 tahun berturut-turut pelaksanaan ibadah haji di batasi karena pandemi covid-19.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA--Perjalanan ibadah haji bukanlah untuk rekreasi, dan bisnis akan tetapi perjalanan ini untuk mendapatkan hikmah dan tujuan mulia. H. Eko Misbahudin, Lc mengatakan, di antara tujuan dan hikmah penting dalam perjalanan ibadah di antaranya adalah menegakkan tauhid. Jika rangkaian manasik haji diamati secara seksama, maka akan ditemukan bahwa menauhidkan (mengesakan) Allah adalah tujuan utama.

 

Terkait

 

“Dalam talbiyah kita menauhidkan Allah. Ketika menaiki bukit Shafa dan Marwah kita juga melantunkan kalimat tauhid, begitu pula saat wukuf di padang Arafah. Bahkan menauhidkan Allah dalam ibadah dan doa adalah amalan paling utama selama haji,” tulis H Eko dalam bukunya “Agar Kita Mendapatkan Haji Mabrur”.

 

Maka, dari itu kata dia, hendaklah seorang yang berhaji menghayati makna ini dalam setiap manasiknya. Dalam surah Al-An-An’am ayat 162-163, Allah SWT berfirman yang artinya:

 

 “Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).

 

Perjalanan ibadah haji untuk mendidik hamba agar patuh dan tunduk kepada Allah Azza wajalla.  Dalam rangkaian manasik haji, ada beberapa rahasia dan hikmah yang sulit kita cerna. 

 

"Sebab tujuan utama dari ibadah ini adalah tunduk dan patuh kepada syariat Allah," katanya.

 

Sebagai contoh; melempar jumrah dan mencium Hajar Aswad. Karenanya, ketika hendak mencium Hajar Aswad, Khalifah Umar bin Khattab berkata: 

 

"Aku tahu bahwa engkau hanya sebongkah batu, yang tidak mendatangkan manfaat maupun menolak bahaya, jika bukan karena aku telah melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu."(HR. Bukhari).

 

Umar radhiyallahu ‘anhu sangat memahami bahwa tujuan utama mencium Hajar Aswad adalah tunduk kepada syariat Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Untuk dapat menghayati ibadah haji, jamaah harus memperbanyak zikir/mengingat Allah. Jamaah haji diperintahkan berzikir pada setiap sesi manasik, juga setelah selesai menunaikan ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

 

“Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berzikirlah [dengan menyebut] Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 198).

 

Ibadah haji juga untuk mencapai derajat takwa. Perintah bertakwa banyak kita temukan di sela-sela penjelasan tentang manasik haji, seperti firman Allah yang artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaNya.” (QS. Al-Baqarah: 196).

 

Jamaah hai yang serius berangkat haji dapat memperdalam cinta kepada Rasulullah SAW. Semua rangkaian ibadah haji telah dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah SAW. Maka, bukti cinta kita kepada beliau adalah dengan menunaikan ibadah mulia ini sesuai tuntunannya. 

 

Dan dengan mengikuti Rasulullah SAW, Allah akan mencintai kita. Allah berfirman yang artinya:

 

“Katakanlah jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini