Ilmu yang Harus Dipelajari Calon Jamaah Haji

Rabu , 22 Sep 2021, 09:22 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Esthi Maharani
Ka
Ka

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Bagi seorang yang hendak melaksanakan ibadah haji, selain mempersiapkan bekal materi, ia perlu mempersiapkan bekal ilmu yang cukup. H. Eko Misbahudin, Lc mengatakan setidaknya ada dua ilmu yang mesti dipelajari jamaah haji.

 

Terkait

Pertama, ilmu tentang pelaksanaan ibadah haji. Wajib baginya mempelajari tata cara haji Rasulullah SAW, mulai dari tata cara berihram, thawaf, sa’i, wukuf, sampai melontar jumrah. Tidak cukup mengerjakan amalan-amalan tersebut hanya karena dikerjakan orang lain tanpa mengetahui dasarnya dari Rasulullah SAW.

Kedua, ilmu tentang hukum-hukum dan adab-adab yang berkaitan dengan Safar (perjalanan). Misalnya, bagaimana tata cara bersuci (wudhu dan tayamu), sholat jamak dan qasar, dalam perjalanan, doa dan zikir yang dianjurkan selama perjalanan haji hingga pulang ke tanah air, serta adab dan akhlak yang patut dijaga selama berada di tanah haram (Makkah dan Madinah).

Eko mengatakan, sarana untuk mendapatkan ilmu beberapa abad yang lalu sangat terbatas dan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Seorang penuntut ilmu terkadang harus berjalan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk sampai ke sumber ilmu.

Kitab-kitab yang menjadi sumber ilmu pun sangat sulit untuk didapatkan karena alat cetak belum tersedia. Untuk mendapatkan satu kitab saja harus menyalin sendiri dari kitab yang diinginkan atau mengupah orang lain untuk menyalinnya.

"Sarana untuk mendapatkan ilmu semakin maju seiring perkembangan zaman dan untuk mendapatkannya juga sudah sangat mudah," tulis H Eko dalam bukunya “Agar Kita Mendapatkan Haji Mabrur”.

Menurutnya, cukup banyak sarana yang dapat digunakan untuk mendapatkan ilmu, di antaranya mengambil ilmu langsung dari seorang guru yang terpercaya, baik dari sisi ilmu maupun akhlaknya. Ini adalah cara terbaik dan tercepat untuk mendapatkan ilmu.

"Karena seorang guru akan memberikan muridnya intisari ilmu yang telah ia dapatkan selama bertahun-tahun," katanya.

Di samping itu seorang murid tidak hanya mengambil ilmu dari gurunya tetapi juga akhlak dan ibadahnya. Inilah rahasia keberkahan ilmu para penuntut ilmu dan ulama zaman dahulu.

"Terdapat banyak cara untuk mengambil ilmu langsung dari seorang guru, misalnya menghadiri majelis (forum) ilmu, formal maupun nonformal, bertanya langsung kepadanya ketika ada suatu masalah agama yang belum diketahui jawabannya," katanya.

Kedua, ilmu bisa didapat melalui buku-buku ilmu syariat yang ditulis oleh para ulama, baik ulama klasik maupun ulama kontemporer, dengan catatan penulisnya adalah orang yang amanah dan dikenal ahli dalam bidang yang dia tulis. Namun sarana ini hendaknya dijadikan sarana pembantu, bukan pokok.

"Yang pokok adalah melalui seorang guru sebagaimana pada poin pertama di atas, karena “Barang siapa yang menjadikan buku sebagai satu-satunya guru, maka akan banyak kekeliruannya,” katanya,

Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam menggunakan sarana ini, di antaranya: konsultasi dengan seorang guru dalam buku yang akan dikonsumsi, membaca buku-buku yang sesuai dengan tingkat keilmuan kita, dan tidak segan bertanya kepada ahlinya ketika ada bagian yang tidak dipahami.

Ketiga, ilmu dapat didapat melalui sarana audio dan audio visual. Ini bisa dijadikan alternatif bagi orang yang tidak memiliki banyak waktu untuk menghadiri forum ilmu. Ia dapat mengambil ilmu dari rekaman ceramah atau kuliah, baik audio seperti kaset, CD, radio, atau audio visual seperti rekaman video dari sebuah ceramah atau kuliah. Bisa juga dengan mengikuti kajian ilmu yang disiarkan langsung melalui radio, televisi atau internet.

“Kesimpulannya, bahwa sarana untuk menuntut ilmu dewasa ini sangat banyak dan mudah, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak mempelajari ilmu syariat, utamanya perkara-perkara yang telah menjadi fardhu ‘ain bagi kita untuk diketahui dan diamalkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini